Resources / Blog / Project Financing

Kontrak Lumpsum: Jenis, Kelebihan, Risiko dan Contoh Penerapannya dalam Bisnis

Lump sum adalah salah satu metode pembayaran yang diterapkan pada kerja sama dengan nilai transaksi besar. Metode pembayaran ini termuat dalam sebuah kontrak sehingga sering dikenal dengan sebutan kontrak lumpsum. 

Bagaimana metode lump sum bekerja? Lalu, bagaimana contoh kontrak pembayaran ini? Simak pembahasan selengkapnya di sini. 

Apa Itu Lumpsum?

Mengutip dari berbagai sumber, lump sum atau lumsum adalah metode pembayaran lunas sebuah transaksi berdasarkan kontrak tertentu. Metode pembayaran ini umumnya menjadi opsi yang dipilih pada transaksi dengan nominal besar, seperti:

  • Kontrak proyek
  • Pembayaran jasa
  • Perjalanan dinas
  • Investasi atau asuransi

Selain itu, pembayaran lumsum ini hanya berlaku pada biaya kontrak dan/jasa yang telah ditetapkan di awal. Jadi jika ada biaya tambahan yang timbul pada saat aktualisasi/pengerjaan proyek, akan dibayarkan oleh pihak lainnya.

Dengan pengertian tersebut, lumsum memiliki karakteristik sebagai berikut:

  • Nilai pembayaran ditentukan sejak awal
  • Pembayaran dilakukan sekaligus (tidak bertahap)
  • Tidak ada penyesuaian biaya di tengah proses
  • Risiko biaya ditanggung salah satu pihak (biasanya pelaksana)

Jenis-Jenis Lump Sum

Kontrak lumsum memiliki beberapa jenis yang dibedakan berdasarkan karakter pekerjaan, tingkat kompleksitas pekerjaan, dan pembagian biaya. Berikut ini adalah beberapa jenis lumpsum yang umum digunakan:

  • Lump Sum Fixed Price

Ini adalah jenis kontrak yang paling umum digunakan. Pada kontrak ini, pembayaran lunas pada nilai transaksi yang telah ditetapkan sejak awal. Nilai transaksi ini mencakup seluruh biaya pekerjaan hingga biaya-biaya yang diprediksikan akan timbul pada saat pengerjaan. 

Kontrak lumsum ini umumnya digunakan pada transaksi bisnis antara dua pihak yang berbeda bidang, seperti pihak pemerintah dan pihak kontraktor.

  • Cost Plus Contract

Kontrak lumsum jenis ini umumnya digunakan pada pekerjaan dengan lingkup kerja yang sulit untuk diprediksi. Karena itu, nilai transaksi yang dibayar secara lunas meliputi biaya aktual yang dikeluarkan ditambah keuntungan (fee) yang telah disepakati. 

  • Time and Materials Contract

Nilai kontrak dihitung berdasarkan waktu kerja dan material yang digunakan, tetapi tetap dibayarkan secara keseluruhan. Kontrak ini cocok untuk pekerjaan dengan dana yang terbatas.

  • Unit Pricing Contract

Nilai kontrak ditentukan berdasarkan unit pekerjaan sehingga total nilai kontrak merupakan penghitungan atas seluruh pekerjaan yang selesai. Jenis kontrak ini dinilai fleksibel karena umumnya, pihak pekerja atau penerima pembayaran menyelesaikan pekerjaan dengan modal sendiri, kemudian baru menetapkan nilai per unit kepada pemberi dana.

Karena pengerjaan unit menggunakan dana dari pihak yang mengerjakan, ada baiknya pihak ini memiliki modal kerja yang cukup untuk menyelesaikan unit tersebut. Jika terkendala modal, perusahaan atau pihak yang mengerjakan unit dapat memanfaatkan solusi pendanaan online dari OnlinePajak.

Sebagai aplikasi bisnis yang terdaftar serta diawasi oleh OJK, OnlinePajak menyediakan solusi pendanaan online yang dapat diakses perusahaan. Pendanaan ini tanpa agunan dengan nilai yang mencapai Rp2 Miliar. Daftar di sini untuk mengajukan pendanaan ini. 

Kelebihan Kontrak Lumpsum 

Penggunaan kontrak lumpsum memiliki beberapa keuntungan, antara lain:

  • Memberikan Kepastian Biaya

Perusahaan dapat mengetahui total biaya sejak awal pengerjaan sehingga memudahkan perencanaan keuangan.

  • Menyederhanakan Administrasi

Perusahaan tidak perlu melakukan pencatatan rinci untuk setiap pengeluaran kecil karena pembayaran telah dilakukan secara lunas.

  • Mengurangi Masalah Biaya

Dengan metode lumpsum, perusahaan yang mengerjakan proyek terhindar dari masalah biaya sebab pembayaran atas nilai kontrak dibayar secara lunas. 

  • Mempercepat Proses Pengerjaan Kontrak

Karena pembayaran lunas, pengerjaan kontrak dapat berjalan lebih cepat sehingga tidak mengulur waktu.

  • Penggunaan Dana Lebih Fleksibel

Pihak penerima dapat mengelola dana sesuai kebutuhan selama pekerjaan selesai sesuai kesepakatan.

Kekurangan dan Risiko Lumpsum

Meski praktis, kontrak lumsum juga memiliki beberapa risiko:

  • Pembayaran yang Tidak Bisa Dicicil

Bagi perusahaan pemberi dana, kekurangan metode lumsum adalah tidak bisa mencicil pembayaran. Karena itu, perusahaan perlu memiliki kesiapan finansial yang baik agar dapat membayar secara lunas.

Jika memerlukan tambahan modal, perusahaan dapat mengajukan pendanaan online melalui OnlinePajak. Pendanaan ini bersifat tanpa agunan dan hanya membutuhkan invoice sebagai syarat pengajuan pinjaman. 

  • Biaya Aktual yang Tidak Sesuai

Jika proses pengerjaan kontrak menghabiskan biaya yang lebih besar atau timbul biaya-biaya di luar dari nilai kontrak, selisih biaya ini harus ditanggung oleh pihak yang mengerjakan kontrak.

  • Risiko Korupsi atau Menaikkan Nilai Suatu Barang/Jasa

Karena menerima pembayaran lunas di awal, ada risiko ketidakjujuran dalam kontrak yang ditanggung oleh pihak pemberi dana. Boleh jadi pihak yang mengerjakan tidak amanah dengan melebihkan harga suatu barang/jasa pada kontrak kerja. 

Contoh Penerapan Kontrak Lumpsum

Bagaimana kontrak lumsum bekerja? Berikut ini adalah contoh sederhana penerapan kontrak lumsum. 

Pemerintah bekerja sama dengan perusahaan kontraktor untuk mengerjakan sebuah proyek konstruksi senilai Rp500 juta dengan sistem lumpsum.

Artinya, pemerintah melakukan pembayaran senilai Rp500 juta tanpa dicicil pada perusahaan kontraktor. Biaya tersebut diberikan secara bersih tanpa menghitung jika ada selisih pada saat pengerjaan proyek.

Contoh lainnya, suatu perusahaan menetapkan biaya perjalanan dinas senilai Rp500 ribu per hari. Jadi jika karyawannya menghabiskan biaya sebesar Rp300 ribu saja dalam sehari, kelebihan Rp200 ribu menjadi hak milik karyawan.

Kedua contoh tersebut adalah penerapan nyata metode lumsum. Berdasarkan contoh tersebut, metode lumsum ini dapat digunakan pada proyek yang bersifat:

  • Ruang lingkup pekerjaan yang jelas
  • Biaya dapat diprediksi
  • Memerlukan kepastian anggaran
  • Ingin menyederhanakan administrasi.
Reading: Kontrak Lumpsum: Jenis, Kelebihan, Risiko dan Contoh Penerapannya dalam Bisnis