Resources / Blog / Bisnis

Aset Tetap Adalah: Pengertian, Jenis, Contoh, dan Penyusutannya

aset tetap

Dalam menjalankan bisnis, perusahaan tidak hanya membutuhkan uang tunai, persediaan barang, atau piutang pelanggan. Perusahaan juga membutuhkan aset yang digunakan dalam jangka panjang untuk mendukung kegiatan operasional, seperti gedung, kendaraan, mesin, komputer, peralatan kantor, hingga infrastruktur produksi. Jenis aset inilah yang dikenal sebagai aset tetap.

Secara sederhana, aset tetap adalah aset jangka panjang yang dimiliki perusahaan untuk digunakan dalam operasional bisnis, bukan untuk dijual kembali dalam kegiatan usaha normal. Aset ini biasanya memiliki masa manfaat lebih dari satu tahun dan dicatat sebagai bagian dari aset tidak lancar dalam laporan keuangan. Beberapa sumber akuntansi juga mengaitkan aset tetap dengan property, plant, and equipment atau PP&E dalam neraca perusahaan.

Memahami aset tetap sangat penting karena nilainya dapat memengaruhi posisi keuangan, perhitungan laba rugi, kebutuhan modal kerja, hingga keputusan investasi perusahaan. Jika aset tetap tidak dicatat dan dikelola dengan benar, perusahaan bisa kesulitan mengetahui nilai kekayaan sebenarnya, salah menghitung biaya penyusutan, atau mengambil keputusan bisnis berdasarkan data yang kurang akurat.

Apa Itu Aset Tetap?

Aset tetap adalah aset yang dimiliki perusahaan untuk digunakan dalam kegiatan produksi, distribusi, administrasi, atau layanan selama lebih dari satu periode akuntansi. Artinya, aset ini tidak habis digunakan dalam waktu singkat seperti bahan baku atau perlengkapan kecil, melainkan memberikan manfaat ekonomi dalam jangka panjang.

Contohnya, mesin produksi pada perusahaan manufaktur digunakan untuk membuat barang selama bertahun-tahun. Mobil operasional pada perusahaan distribusi digunakan untuk mengantar barang ke pelanggan. Komputer kantor digunakan untuk mendukung pekerjaan administrasi, keuangan, dan pemasaran.

Namun, tidak semua barang bernilai besar otomatis termasuk aset tetap. Kuncinya ada pada tujuan penggunaan. Jika perusahaan membeli kendaraan untuk digunakan sebagai alat operasional, kendaraan tersebut termasuk aset tetap. Namun, jika perusahaan tersebut adalah dealer mobil dan kendaraan dibeli untuk dijual kembali, maka kendaraan itu lebih tepat dikategorikan sebagai persediaan.

Dengan kata lain, aset yang sama bisa memiliki klasifikasi berbeda tergantung jenis bisnis dan tujuan penggunaannya.

Karakteristik Aset Tetap

Agar tidak keliru dalam mencatat aset, perusahaan perlu memahami ciri-ciri utama aset tetap. Berikut beberapa karakteristik yang umum ditemukan.

1. Digunakan untuk Operasional Bisnis

Aset tetap digunakan untuk membantu perusahaan menjalankan aktivitas bisnis sehari-hari. Aset ini bukan barang dagangan, melainkan alat pendukung agar bisnis dapat menghasilkan pendapatan.

Misalnya, oven besar pada bisnis roti, mesin cetak pada percetakan, kendaraan pada perusahaan logistik, atau laptop pada perusahaan jasa digital. Semua aset tersebut tidak dijual kepada pelanggan, tetapi digunakan untuk menciptakan produk atau layanan.

2. Memiliki Masa Manfaat Lebih dari Satu Tahun

Aset tetap biasanya digunakan lebih dari satu periode akuntansi atau lebih dari satu tahun. Inilah yang membedakannya dari perlengkapan habis pakai, seperti kertas, tinta, alat tulis, atau bahan pendukung lain yang cepat digunakan.

Karena masa manfaatnya panjang, biaya aset tetap tidak langsung dibebankan seluruhnya pada saat pembelian. Umumnya, biaya tersebut dialokasikan secara bertahap melalui penyusutan aset tetap.

3. Memiliki Nilai Ekonomi bagi Perusahaan

Aset tetap memberikan manfaat ekonomi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Mesin dapat membantu produksi barang. Gedung dapat menjadi tempat operasional. Kendaraan dapat mempercepat distribusi. Komputer dapat meningkatkan produktivitas kerja.

Manfaat ekonomi ini membuat aset tetap menjadi bagian penting dalam strategi pertumbuhan bisnis. Semakin besar skala usaha, biasanya semakin kompleks pula kebutuhan pengelolaan aset tetapnya.

4. Dicatat Berdasarkan Biaya Perolehan

Dalam akuntansi, aset tetap umumnya dicatat berdasarkan biaya perolehan. Biaya ini tidak hanya mencakup harga beli, tetapi juga biaya lain yang diperlukan agar aset siap digunakan. Misalnya biaya pengiriman, instalasi, pemasangan, uji coba, atau biaya legal tertentu untuk memperoleh aset.

Sebagai contoh, jika perusahaan membeli mesin seharga Rp100 juta dan mengeluarkan biaya instalasi Rp5 juta, maka nilai perolehan mesin tersebut dapat dicatat sebesar Rp105 juta.

5. Mengalami Penyusutan, Kecuali Beberapa Aset Tertentu

Sebagian besar aset tetap mengalami penurunan nilai karena digunakan, aus, rusak, atau menjadi kurang relevan akibat perkembangan teknologi. Penurunan nilai ini dicatat melalui penyusutan. Namun, tanah umumnya tidak disusutkan karena nilainya tidak selalu menurun dan masa manfaatnya dianggap tidak terbatas dalam kondisi normal.

Jenis-Jenis Aset Tetap

Secara umum, aset tetap dapat dipahami dalam dua kelompok besar, yaitu aset tetap berwujud dan aset tidak berwujud yang memberikan manfaat jangka panjang. Dalam praktik akuntansi, aset tetap biasanya lebih sering merujuk pada aset berwujud. Namun, dalam pembahasan bisnis yang lebih luas, aset tidak berwujud juga sering dibahas karena sama-sama dapat memberikan manfaat ekonomi jangka panjang.

1. Aset Tetap Berwujud

Aset tetap berwujud adalah aset yang memiliki bentuk fisik, dapat dilihat, disentuh, dan digunakan secara langsung untuk mendukung operasional perusahaan.

Contoh aset tetap berwujud meliputi:

  • Tanah, seperti lahan kantor, pabrik, gudang, atau area operasional.
  • Bangunan, seperti gedung kantor, toko, pabrik, atau fasilitas produksi.
  • Mesin produksi, seperti mesin pemotong, mesin pengemas, atau mesin manufaktur.
  • Kendaraan, seperti mobil operasional, truk pengiriman, motor kurir, atau forklift.
  • Peralatan kantor, seperti komputer, printer, meja, kursi, lemari, dan perangkat jaringan.
  • Alat berat, seperti ekskavator, traktor, crane, atau bulldozer.
  • Infrastruktur teknologi, seperti server, perangkat jaringan, dan pusat data.

Aset tetap berwujud biasanya lebih mudah diidentifikasi karena bentuknya nyata. Namun, perusahaan tetap perlu mencatat detail aset tersebut, seperti tanggal pembelian, lokasi penggunaan, nilai perolehan, masa manfaat, kondisi aset, dan metode penyusutannya.

2. Aset Tidak Berwujud yang Bernilai Jangka Panjang

Aset tidak berwujud adalah aset yang tidak memiliki bentuk fisik, tetapi memiliki nilai ekonomi bagi perusahaan. Jenis aset ini biasanya berkaitan dengan hak, izin, reputasi, atau keunggulan bisnis tertentu.

Contohnya meliputi:

  • Merek dagang, seperti nama brand, logo, atau identitas bisnis yang memiliki nilai komersial.
  • Hak paten, yaitu hak eksklusif atas penemuan, teknologi, atau proses tertentu.
  • Hak cipta, seperti karya tulis, desain, musik, software, atau konten kreatif.
  • Lisensi, yaitu hak untuk menggunakan teknologi, sistem, atau model bisnis tertentu.
  • Goodwill, yaitu nilai lebih yang muncul dari reputasi, loyalitas pelanggan, atau hubungan bisnis.
  • Software berlisensi, jika digunakan dalam jangka panjang untuk mendukung operasional.
  • Hak franchise, yaitu hak untuk menjalankan bisnis dengan merek atau sistem tertentu.

Perlu dicatat, aset tidak berwujud biasanya tidak disusutkan seperti aset tetap berwujud, melainkan diamortisasi sesuai masa manfaatnya. Karena sifatnya tidak fisik, penilaian aset tidak berwujud sering kali membutuhkan pertimbangan yang lebih hati-hati.

Contoh Aset Tetap Berdasarkan Jenis Usaha

Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh aset tetap dalam beberapa jenis bisnis.

1. Perusahaan Manufaktur

Pada perusahaan manufaktur, aset tetap berperan langsung dalam proses produksi. Contohnya:

  • Pabrik atau gedung produksi
  • Mesin produksi
  • Alat pengemasan
  • Forklift
  • Gudang bahan baku
  • Kendaraan distribusi
  • Peralatan keselamatan kerja

Tanpa aset tetap tersebut, perusahaan akan kesulitan memproduksi barang dalam jumlah besar secara konsisten.

2. Perusahaan Dagang

Perusahaan dagang membeli barang dari pemasok lalu menjualnya kembali. Aset tetap yang umum digunakan antara lain:

  • Ruko atau toko
  • Rak display
  • Komputer kasir
  • Mesin barcode
  • Kendaraan pengiriman
  • Gudang penyimpanan
  • Peralatan administrasi

Dalam bisnis dagang, aset tetap membantu memperlancar penjualan, penyimpanan, dan distribusi barang.

3. Perusahaan Jasa

Pada perusahaan jasa, aset tetap mungkin tidak selalu sebesar perusahaan manufaktur, tetapi tetap penting untuk mendukung layanan. Contohnya:

  • Kantor
  • Laptop atau komputer
  • Peralatan studio
  • Kamera
  • Software pendukung kerja
  • Kendaraan operasional
  • Peralatan presentasi

Misalnya, agensi kreatif membutuhkan komputer, kamera, dan perangkat editing untuk menghasilkan materi visual bagi klien.

4. Bisnis Logistik

Pada bisnis logistik, aset tetap menjadi tulang punggung operasional. Contohnya:

  • Truk
  • Motor kurir
  • Gudang
  • Forklift
  • Sistem pelacakan
  • Peralatan sortir barang
  • Pallet dan rak penyimpanan

Semakin baik aset tetap dikelola, semakin lancar pula proses pengiriman dan pengendalian biaya operasional.

Cara Perolehan Aset Tetap

Perusahaan dapat memperoleh aset tetap dengan berbagai cara. Setiap cara perolehan dapat memengaruhi pencatatan akuntansi dan arus kas perusahaan.

1. Pembelian Tunai

Pembelian tunai dilakukan ketika perusahaan membayar aset secara langsung. Cara ini sederhana karena tidak menimbulkan utang, tetapi dapat mengurangi kas dalam jumlah besar.

Contoh: Perusahaan membeli mesin seharga Rp150 juta secara tunai. Dalam pencatatan, akun aset tetap bertambah, sedangkan kas berkurang.

2. Pembelian Kredit atau Cicilan

Pembelian kredit dilakukan ketika perusahaan memperoleh aset terlebih dahulu dan membayarnya secara bertahap. Cara ini membantu menjaga kas, tetapi menimbulkan kewajiban pembayaran di masa depan.

Contoh: Perusahaan membeli kendaraan operasional senilai Rp300 juta dengan uang muka Rp60 juta dan sisanya dicicil selama 24 bulan.

3. Sewa Pembiayaan

Dalam beberapa kasus, perusahaan menggunakan skema sewa pembiayaan untuk memperoleh manfaat aset tanpa langsung membeli secara penuh. Skema ini umum digunakan untuk kendaraan, mesin, atau alat berat.

Sebelum memilih opsi ini, perusahaan perlu menghitung total biaya, jangka waktu kontrak, kewajiban pembayaran, dan dampaknya terhadap laporan keuangan.

4. Hibah atau Donasi

Aset tetap juga dapat diperoleh dari hibah, bantuan, atau donasi. Hal ini sering terjadi pada yayasan, lembaga pendidikan, atau organisasi sosial.

Meski tidak dibeli, aset tersebut tetap perlu dicatat agar perusahaan atau organisasi memiliki data aset yang rapi dan dapat dipertanggungjawabkan.

5. Pertukaran Aset

Perusahaan juga bisa memperoleh aset baru dengan menukar aset lama, lalu menambah sejumlah pembayaran jika diperlukan. Cara ini sering terjadi pada kendaraan, mesin, atau peralatan produksi.

Dalam kondisi ini, perusahaan perlu menghitung nilai buku aset lama, nilai aset baru, serta selisih yang muncul dari transaksi tersebut.

Penyusutan Aset Tetap

Penyusutan aset tetap adalah proses mengalokasikan biaya perolehan aset selama masa manfaatnya. Penyusutan dilakukan karena aset tetap umumnya mengalami penurunan nilai akibat pemakaian, usia, keausan, atau perkembangan teknologi.

Misalnya, perusahaan membeli komputer seharga Rp12 juta untuk digunakan selama 4 tahun. Alih-alih membebankan seluruh Rp12 juta sebagai biaya pada tahun pertama, perusahaan dapat membagi biaya tersebut selama masa manfaat komputer. Dengan begitu, laporan laba rugi menjadi lebih proporsional karena biaya aset diakui sesuai periode penggunaannya.

Penyusutan penting karena membantu perusahaan:

  • Menampilkan nilai aset yang lebih realistis.
  • Menghitung laba secara lebih wajar.
  • Mengukur biaya operasional dengan lebih akurat.
  • Menyiapkan anggaran penggantian aset.
  • Menilai efisiensi penggunaan aset.
  • Mendukung kepatuhan akuntansi dan perpajakan.

Metode Penyusutan Aset Tetap

Ada beberapa metode penyusutan yang dapat digunakan perusahaan. Pemilihan metode sebaiknya disesuaikan dengan pola manfaat aset, kebijakan akuntansi, dan ketentuan yang berlaku.

1. Metode Garis Lurus

Metode garis lurus adalah metode penyusutan yang membagi biaya aset secara merata selama masa manfaatnya. Metode ini banyak digunakan karena sederhana dan mudah dipahami.

Rumusnya:

Penyusutan Tahunan = (Harga Perolehan – Nilai Residu) / Masa Manfaat

Contoh:

Perusahaan membeli mesin seharga Rp100 juta. Nilai residu diperkirakan Rp10 juta, dan masa manfaatnya 5 tahun.

Maka penyusutan tahunannya adalah:

(Rp100 juta – Rp10 juta) / 5 = Rp18 juta per tahun

Artinya, setiap tahun perusahaan mencatat biaya penyusutan sebesar Rp18 juta.

2. Metode Saldo Menurun

Metode saldo menurun menghitung penyusutan berdasarkan persentase tertentu dari nilai buku aset. Beban penyusutan biasanya lebih besar di awal masa manfaat dan semakin kecil pada tahun-tahun berikutnya.

Metode ini cocok untuk aset yang manfaatnya lebih besar pada awal penggunaan, seperti kendaraan, perangkat teknologi, atau mesin yang cepat mengalami penurunan performa.

Rumus umumnya:

Penyusutan Tahunan = Nilai Buku Awal x Tarif Penyusutan

Contoh:

Jika nilai buku awal aset Rp100 juta dan tarif penyusutan 25%, maka penyusutan tahun pertama adalah Rp25 juta. Tahun berikutnya, penyusutan dihitung dari nilai buku setelah dikurangi penyusutan sebelumnya.

3. Metode Jumlah Angka Tahun

Metode jumlah angka tahun juga menghasilkan beban penyusutan yang lebih besar pada awal masa manfaat. Perhitungannya menggunakan proporsi berdasarkan sisa umur aset dibandingkan total jumlah angka tahun.

Metode ini dapat digunakan ketika aset dianggap lebih produktif pada tahun-tahun awal dan manfaatnya menurun seiring waktu.

4. Metode Unit Produksi

Metode unit produksi menghitung penyusutan berdasarkan penggunaan aktual aset. Metode ini cocok untuk mesin atau peralatan yang tingkat pemakaiannya dapat diukur dengan jelas.

Contoh: Sebuah mesin diperkirakan mampu menghasilkan 500.000 unit produk selama masa manfaatnya. Jika pada tahun pertama mesin menghasilkan 100.000 unit, maka penyusutan tahun tersebut dihitung berdasarkan proporsi penggunaan aktual.

Metode ini membantu perusahaan mencatat biaya penyusutan secara lebih sesuai dengan intensitas pemakaian aset.

Dampak Aset Tetap terhadap Laporan Keuangan

Aset tetap tidak hanya dicatat sebagai daftar barang perusahaan. Keberadaannya juga memengaruhi beberapa laporan keuangan utama.

1. Dampak pada Neraca

Dalam neraca, aset tetap dicatat sebagai bagian dari aset tidak lancar. Nilainya biasanya ditampilkan berdasarkan harga perolehan dikurangi akumulasi penyusutan.

Jika perusahaan memiliki aset tetap bernilai besar, neraca akan menunjukkan bahwa perusahaan memiliki investasi jangka panjang dalam kegiatan operasional. Namun, perusahaan juga perlu memastikan nilai aset tersebut tidak terlalu tinggi dibandingkan manfaat yang benar-benar dihasilkan.

2. Dampak pada Laporan Laba Rugi

Penyusutan aset tetap dicatat sebagai beban dalam laporan laba rugi. Beban ini akan mengurangi laba perusahaan pada periode berjalan.

Namun, penyusutan bukan berarti perusahaan mengeluarkan kas setiap bulan atau setiap tahun. Penyusutan adalah pencatatan akuntansi untuk mencerminkan pemakaian nilai aset. Karena itu, perusahaan perlu membedakan antara beban akuntansi dan arus kas aktual.

3. Dampak pada Laporan Arus Kas

Pembelian aset tetap biasanya dicatat dalam aktivitas investasi pada laporan arus kas. Jika perusahaan membeli mesin, kendaraan, atau gedung secara tunai, maka kas perusahaan akan berkurang.

Di sisi lain, jika perusahaan menjual aset tetap, transaksi tersebut dapat menambah arus kas masuk dari aktivitas investasi. Informasi ini penting untuk melihat apakah perusahaan sedang melakukan ekspansi, mengganti aset lama, atau menjual aset untuk memperbaiki likuiditas.

Mengapa Pengelolaan Aset Tetap Penting?

Pengelolaan aset tetap yang baik membantu perusahaan mengetahui apa saja aset yang dimiliki, di mana lokasinya, bagaimana kondisinya, berapa nilainya, dan kapan perlu diganti. Tanpa pengelolaan yang rapi, aset bisa hilang, rusak tanpa terpantau, tidak produktif, atau tetap tercatat meski sebenarnya sudah tidak digunakan.

Berikut beberapa alasan mengapa aset tetap perlu dikelola dengan serius:

  • Mencegah pembelian aset yang tidak perlu. Data aset membantu perusahaan mengecek apakah aset lama masih bisa digunakan sebelum membeli yang baru.
  • Mengontrol biaya perawatan. Aset seperti kendaraan dan mesin membutuhkan pemeliharaan berkala agar tidak cepat rusak.
  • Mendukung audit. Catatan aset yang rapi memudahkan pemeriksaan internal maupun eksternal.
  • Menghitung nilai bisnis. Investor, kreditur, dan manajemen membutuhkan informasi aset untuk menilai kesehatan perusahaan.
  • Membantu perencanaan modal. Perusahaan bisa memperkirakan kapan perlu mengganti mesin, memperbarui perangkat, atau menambah fasilitas baru.

Aset tetap yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi beban tersembunyi. Misalnya, kendaraan operasional yang jarang digunakan tetap memerlukan pajak, servis, dan biaya perawatan. Mesin lama yang sering rusak dapat menghambat produksi. Komputer usang dapat menurunkan produktivitas karyawan.

Cara Mengelola Aset Tetap dengan Lebih Efektif

Agar aset tetap benar-benar mendukung pertumbuhan bisnis, perusahaan perlu memiliki sistem pengelolaan yang jelas. Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan.

1. Buat Daftar Aset yang Lengkap

Catat semua aset tetap yang dimiliki perusahaan, mulai dari nama aset, kode aset, tanggal pembelian, harga perolehan, lokasi, pengguna, kondisi, masa manfaat, hingga metode penyusutan.

Daftar ini membantu perusahaan mengetahui jumlah aset secara akurat dan menghindari aset yang tidak tercatat.

2. Tentukan Kebijakan Kapitalisasi

Perusahaan perlu menentukan batas nilai minimum agar suatu pembelian dikategorikan sebagai aset tetap. Misalnya, pembelian di atas nominal tertentu dicatat sebagai aset tetap, sedangkan pembelian bernilai kecil langsung dicatat sebagai beban.

Kebijakan ini membuat pencatatan lebih konsisten dan mudah diaudit.

3. Lakukan Inventarisasi Berkala

Inventarisasi aset perlu dilakukan secara berkala untuk memastikan aset benar-benar ada, masih digunakan, dan berada di lokasi yang sesuai. Proses ini juga membantu mendeteksi aset rusak, hilang, atau tidak produktif.

4. Jadwalkan Perawatan Aset

Aset seperti kendaraan, mesin, alat berat, dan perangkat teknologi membutuhkan perawatan rutin. Dengan jadwal perawatan yang jelas, perusahaan dapat memperpanjang umur aset dan menghindari kerusakan besar yang membutuhkan biaya mahal.

5. Evaluasi Kinerja Aset

Tidak semua aset yang dimiliki perusahaan memberikan manfaat optimal. Karena itu, perusahaan perlu mengevaluasi apakah aset masih produktif, terlalu mahal untuk dirawat, atau sudah waktunya diganti.

Evaluasi ini penting agar aset tetap tidak berubah menjadi beban operasional yang menggerus profit.

Kesalahan Umum dalam Mengelola Aset Tetap

Beberapa perusahaan, terutama yang sedang berkembang, sering kali belum memiliki sistem pengelolaan aset tetap yang rapi. Akibatnya, kesalahan kecil bisa berdampak besar pada laporan keuangan.

Berikut beberapa kesalahan yang perlu dihindari:

  • Tidak mencatat biaya tambahan sebagai bagian dari biaya perolehan.
  • Tidak menentukan masa manfaat aset secara realistis.
  • Menggunakan metode penyusutan yang tidak sesuai dengan pola penggunaan aset.
  • Tidak memperbarui data ketika aset dijual, rusak, atau dipindahkan.
  • Tidak melakukan inventarisasi fisik secara berkala.
  • Mencampur aset pribadi pemilik dengan aset perusahaan.
  • Tidak menyiapkan anggaran untuk penggantian aset.

Kesalahan seperti ini dapat membuat laporan keuangan terlihat tidak akurat. Dalam jangka panjang, perusahaan bisa salah menghitung laba, salah menilai kebutuhan modal, atau kesulitan saat mengajukan pembiayaan.

Kesimpulan

Aset tetap adalah aset jangka panjang yang digunakan perusahaan untuk menjalankan operasional dan menghasilkan manfaat ekonomi selama lebih dari satu periode akuntansi. Contohnya meliputi tanah, bangunan, mesin, kendaraan, komputer, peralatan kantor, hingga infrastruktur bisnis.

Memahami aset tetap tidak cukup hanya dengan mengetahui definisinya. Perusahaan juga perlu memahami jenis, karakteristik, cara perolehan, metode pencatatan, serta penyusutan aset tetap. Dengan pengelolaan yang tepat, aset tetap dapat membantu bisnis bekerja lebih efisien, menjaga nilai kekayaan perusahaan, dan mendukung pengambilan keputusan yang lebih akurat.

Namun, pengadaan dan perawatan aset tetap sering membutuhkan dana besar. Di saat yang sama, perusahaan juga harus menjaga arus kas agar tetap sehat, terutama ketika pembayaran dari pelanggan belum diterima. Jika bisnis Anda membutuhkan tambahan modal kerja tanpa harus menunggu invoice jatuh tempo, Invoice Financing OnlinePajakdapat menjadi solusi. Melalui fasilitas ini, bisnis dapat memperoleh pembiayaan berbasis invoice dengan proses pengajuan online, pencairan cepat, tanpa agunan, dan limit hingga Rp2 miliar. Ajukan sekarang melalui Invoice Financing OnlinePajak untuk membantu menjaga cash flow tetap lancar sambil mendukung kebutuhan operasional dan pengembangan aset bisnis Anda.

Reading: Aset Tetap Adalah: Pengertian, Jenis, Contoh, dan Penyusutannya