Dalam bisnis, keuntungan tidak hanya ditentukan dari seberapa besar angka penjualan. Perusahaan juga perlu tahu berapa biaya yang benar-benar dikeluarkan untuk menghasilkan atau mendapatkan barang yang berhasil dijual. Di sinilah istilah COGS adalah salah satu komponen penting yang wajib dipahami, terutama oleh pemilik usaha dagang, manufaktur, restoran, ritel, distributor, hingga bisnis yang memiliki persediaan barang.
Secara sederhana, COGS membantu bisnis menjawab satu pertanyaan penting: “Dari total penjualan yang masuk, berapa biaya langsung yang harus dikeluarkan untuk menghasilkan barang tersebut?” Tanpa mengetahui angka ini, perusahaan bisa saja merasa penjualannya tinggi, padahal margin labanya sangat tipis karena biaya produksi atau pembelian barang terlalu besar.
Pengertian COGS Adalah
COGS adalah singkatan dari Cost of Goods Sold, yaitu biaya langsung yang berkaitan dengan barang yang telah terjual dalam periode tertentu. Dalam bahasa Indonesia, COGS sering disamakan dengan Harga Pokok Penjualan atau HPP. Istilah ini umum digunakan dalam laporan laba rugi untuk menghitung laba kotor perusahaan.
Dengan kata lain, arti COGS merujuk pada total biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk memperoleh, memproduksi, atau menyiapkan barang sampai barang tersebut siap dijual dan benar-benar terjual kepada pelanggan. Biaya ini tidak mencakup seluruh biaya operasional bisnis, melainkan hanya biaya yang secara langsung berhubungan dengan barang yang dijual.
Sebagai contoh, jika sebuah toko roti menjual 1.000 roti dalam satu bulan, maka COGS mencakup biaya bahan baku seperti tepung, gula, telur, mentega, kemasan, serta tenaga kerja langsung yang membuat roti tersebut. Namun, biaya iklan Instagram, gaji admin kantor, sewa ruang administrasi, atau biaya promosi tidak masuk ke dalam COGS karena biaya tersebut tidak langsung melekat pada proses pembuatan roti.
COGS penting karena menjadi dasar untuk menghitung laba kotor. Dalam laporan keuangan, COGS biasanya dikurangkan dari pendapatan penjualan untuk mengetahui berapa keuntungan kotor yang diperoleh perusahaan sebelum dikurangi biaya operasional lainnya.
COGS juga mencakup biaya langsung untuk memproduksi atau membeli barang yang dijual, tetapi tidak mencakup biaya tidak langsung seperti distribusi dan biaya penjualan.
Mengapa COGS Sering Disebut HPP?
Dalam praktik bisnis di Indonesia, COGS sering disebut sebagai HPP atau Harga Pokok Penjualan. Jadi, ketika seseorang bertanya, “Apa perbedaan COGS dan HPP?” Maka jawabannya perlu dilihat dari konteksnya.
Pada dasarnya, COGS dan HPP mengacu pada konsep yang sama, yaitu biaya pokok dari barang yang telah dijual. Perbedaannya lebih banyak terletak pada bahasa dan penggunaan istilah. COGS adalah istilah bahasa Inggris yang sering digunakan dalam laporan keuangan internasional, sedangkan HPP adalah istilah bahasa Indonesia yang lebih umum digunakan dalam pembukuan lokal.
Namun, dalam percakapan bisnis, HPP kadang juga digunakan secara lebih longgar untuk menyebut biaya pokok produk per unit. Misalnya, seorang pelaku usaha berkata, “HPP satu botol produk ini Rp25.000.” Dalam konteks tersebut, HPP merujuk pada biaya pokok per produk. Sementara itu, COGS biasanya digunakan dalam konteks laporan keuangan periode tertentu, misalnya COGS bulan Januari, COGS kuartal pertama, atau COGS tahunan.
Agar lebih mudah dipahami:
- COGS: istilah akuntansi berbahasa Inggris untuk biaya barang yang terjual dalam suatu periode.
- HPP: istilah bahasa Indonesia yang umumnya setara dengan COGS.
- HPP per unit: biaya pokok satuan produk yang sering digunakan untuk menentukan harga jual.
- COGS dalam laporan laba rugi: total biaya barang yang telah terjual selama periode tertentu.
Jadi, COGS dan HPP tidak perlu diperlakukan sebagai dua konsep yang benar-benar berbeda. Keduanya pada dasarnya saling berkaitan dan sering digunakan untuk menjelaskan biaya pokok penjualan.
Tujuan Menghitung COGS
Menghitung COGS bukan sekadar kebutuhan akuntansi. Bagi pemilik bisnis, angka ini bisa menjadi alat untuk membaca kesehatan usaha. Penjualan yang tinggi belum tentu berarti bisnis sehat jika biaya pokoknya terlalu besar. Sebaliknya, penjualan yang sedang bisa tetap menghasilkan laba yang baik jika COGS terkendali.
Berikut beberapa tujuan utama menghitung COGS.
1. Mengetahui Laba Kotor Secara Lebih Akurat
Tujuan utama menghitung COGS adalah mengetahui laba kotor. Laba kotor diperoleh dengan mengurangi penjualan bersih dengan COGS.
Misalnya, sebuah bisnis mencatat penjualan bersih Rp100.000.000 dalam satu bulan. Setelah dihitung, COGS-nya sebesar Rp60.000.000. Artinya, laba kotor bisnis tersebut adalah Rp40.000.000.
Angka laba kotor ini belum menjadi laba bersih karena masih ada biaya operasional lain, seperti gaji staf administrasi, biaya pemasaran, sewa kantor, internet, dan biaya lainnya. Namun, laba kotor memberikan gambaran awal apakah produk yang dijual sudah memiliki margin yang sehat atau belum.
2. Membantu Menentukan Harga Jual
Tanpa mengetahui COGS, bisnis akan kesulitan menentukan harga jual yang tepat. Harga jual tidak bisa hanya mengikuti kompetitor atau perkiraan pasar. Perusahaan harus tahu terlebih dahulu berapa biaya pokok yang melekat pada produk.
Jika COGS satu produk terlalu dekat dengan harga jualnya, margin laba akan sangat kecil. Kondisi ini berisiko membuat bisnis terlihat ramai secara penjualan, tetapi sulit menghasilkan keuntungan. Sebaliknya, jika perusahaan memahami COGS dengan baik, harga jual bisa disusun lebih realistis dengan mempertimbangkan margin, daya beli pelanggan, dan posisi produk di pasar.
3. Mengontrol Efisiensi Produksi atau Pembelian
COGS juga membantu perusahaan melihat apakah biaya produksi atau pembelian barang masih efisien. Jika COGS naik dari bulan ke bulan, perusahaan perlu mencari penyebabnya. Apakah harga bahan baku naik? Apakah ada pemborosan produksi? Apakah ada barang rusak? Apakah pemasok menaikkan harga? Atau apakah proses kerja belum efisien?
Dengan memantau COGS secara rutin, bisnis bisa mengambil langkah perbaikan lebih cepat. Misalnya, menegosiasikan harga dengan supplier, mengganti bahan tanpa menurunkan kualitas, memperbaiki sistem persediaan, atau mengevaluasi proses produksi.
4. Menyusun Laporan Keuangan yang Lebih Tepat
COGS merupakan salah satu komponen utama dalam laporan laba rugi. Karena itu, perhitungannya harus rapi agar laporan keuangan tidak menyesatkan. Jika COGS terlalu rendah, laba terlihat lebih besar dari kondisi sebenarnya. Jika COGS terlalu tinggi, laba terlihat lebih kecil dari realitas bisnis.
Kesalahan dalam menghitung COGS bisa mempengaruhi keputusan manajemen, perencanaan pajak, evaluasi harga, hingga penilaian investor atau kreditur terhadap bisnis.
Hubungan COGS dan Persediaan
COGS memiliki hubungan yang sangat erat dengan persediaan. Hal ini karena COGS hanya menghitung biaya dari barang yang sudah terjual, bukan seluruh barang yang dibeli atau diproduksi.
Misalnya, sebuah toko membeli 1.000 unit produk dengan total biaya Rp50.000.000. Namun, pada akhir bulan, hanya 700 unit yang terjual dan 300 unit masih tersimpan di gudang. Dalam kondisi ini, tidak semua biaya pembelian langsung menjadi COGS. Biaya untuk 300 unit yang belum terjual tetap dicatat sebagai persediaan akhir.
Inilah alasan mengapa persediaan awal dan persediaan akhir menjadi bagian penting dalam rumus COGS. Agar lebih jelas, berikut alurnya:
- Persediaan awal adalah nilai barang yang tersedia di awal periode.
- Pembelian atau produksi selama periode berjalan menambah jumlah barang yang tersedia untuk dijual.
- Persediaan akhir adalah nilai barang yang belum terjual di akhir periode.
- Selisih dari barang yang tersedia dan barang yang tersisa menjadi dasar COGS.
Dengan kata lain, semakin besar persediaan akhir, semakin kecil COGS yang diakui pada periode tersebut. Sebaliknya, jika persediaan akhir kecil, artinya lebih banyak barang yang terjual sehingga COGS bisa lebih besar.
Namun, perusahaan harus berhati-hati dalam menilai persediaan. Kesalahan pencatatan stok, barang rusak yang belum disesuaikan, atau nilai persediaan yang tidak diperbarui dapat membuat angka COGS menjadi tidak akurat. Metode penilaian persediaan seperti FIFO, LIFO, average cost, dan specific identification dapat mempengaruhi nilai COGS yang dilaporkan.
Biaya yang Termasuk COGS
Tidak semua biaya bisnis masuk ke dalam COGS. Prinsip utamanya adalah biaya tersebut harus berhubungan langsung dengan barang yang dijual. Jika biaya tetap muncul meskipun tidak ada barang yang diproduksi atau dijual, kemungkinan besar biaya tersebut bukan bagian dari COGS.
Berikut beberapa biaya yang umumnya termasuk dalam COGS.
1. Bahan Baku Langsung
Bahan baku langsung adalah bahan utama yang digunakan untuk membuat produk. Untuk bisnis makanan, bahan baku bisa berupa tepung, gula, minyak, daging, sayur, bumbu, dan kemasan tertentu. Untuk bisnis manufaktur pakaian, bahan bakunya bisa berupa kain, benang, kancing, resleting, dan label produk.
Biaya bahan baku masuk COGS karena nilainya melekat langsung pada barang yang dijual. Jika biaya bahan baku naik, COGS juga biasanya ikut naik.
2. Tenaga Kerja Langsung
Tenaga kerja langsung adalah biaya pekerja yang terlibat langsung dalam proses produksi barang. Contohnya adalah operator mesin, penjahit, koki, teknisi produksi, atau pekerja pabrik yang membuat produk.
Namun, tidak semua gaji karyawan masuk COGS. Gaji tim marketing, staf administrasi, customer service, atau manajer kantor biasanya masuk ke biaya operasional, bukan COGS, karena tidak langsung terlibat dalam proses menghasilkan barang.
3. Biaya Overhead Produksi
Overhead produksi adalah biaya pendukung yang tetap berhubungan dengan proses produksi. Contohnya termasuk listrik pabrik, biaya perawatan mesin produksi, perlengkapan produksi, penyusutan alat produksi, dan biaya sewa ruang produksi.
Biaya ini berbeda dari biaya operasional umum. Misalnya, listrik untuk mesin produksi dapat masuk COGS, tetapi listrik ruang kantor administrasi biasanya tidak masuk COGS.
4. Biaya Pembelian Barang Dagang
Untuk bisnis dagang atau ritel, COGS biasanya berasal dari biaya pembelian barang yang dijual kembali. Contohnya, toko kosmetik membeli produk dari distributor lalu menjualnya kepada pelanggan. Harga pembelian barang dari distributor menjadi bagian dari COGS ketika barang tersebut terjual.
Jika ada retur pembelian, diskon pembelian, atau potongan harga dari supplier, nilai tersebut perlu diperhitungkan agar pembelian bersih lebih akurat.
5. Biaya Pengiriman ke Gudang atau Tempat Produksi
Dalam beberapa kasus, biaya pengiriman barang dari supplier ke gudang bisa masuk ke dalam biaya perolehan persediaan, sehingga berpengaruh pada COGS ketika barang tersebut dijual. Namun, biaya pengiriman barang dari penjual ke pelanggan biasanya tidak selalu masuk COGS. Biaya tersebut dapat dicatat sebagai biaya distribusi atau penjualan, tergantung kebijakan akuntansi bisnis.
COGS juga mencakup biaya langsung seperti material, tenaga kerja, overhead manufaktur, dan biaya pengiriman tertentu yang terkait dengan produksi atau perolehan barang, tetapi tidak termasuk biaya pengiriman produk kepada pelanggan dalam konteks tertentu.
Biaya yang Tidak Termasuk COGS
Agar tidak salah hitung, bisnis juga perlu memahami biaya yang tidak termasuk COGS. Beberapa biaya berikut biasanya tidak masuk dalam COGS:
- Biaya iklan dan promosi
- Gaji tim penjualan
- Gaji staf administrasi
- Sewa kantor non-produksi
- Biaya legal
- Biaya asuransi kantor
- Biaya internet kantor
- Biaya pelatihan karyawan
- Biaya pengiriman ke pelanggan jika dikategorikan sebagai biaya distribusi
- Biaya layanan pelanggan
- Biaya software administrasi
Biaya-biaya tersebut tetap penting bagi bisnis, tetapi biasanya dicatat sebagai operating expenses atau biaya operasional. Perbedaan ini penting karena COGS digunakan untuk menghitung laba kotor, sedangkan biaya operasional digunakan untuk menghitung laba bersih.
Rumus COGS dan Cara Menghitungnya
Setelah memahami konsepnya, bagian berikutnya adalah mengetahui rumus COGS. Secara umum, rumus yang paling sering digunakan adalah:
COGS = Persediaan Awal + Pembelian Bersih – Persediaan Akhir
Rumus ini cocok digunakan oleh bisnis dagang, ritel, distributor, restoran, dan perusahaan yang memiliki persediaan barang. Dalam bisnis manufaktur, perhitungan bisa lebih kompleks karena melibatkan barang dalam proses, bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik. Berikut merupakan ulasannya satu per satu.
Persediaan Awal
Persediaan awal adalah nilai barang yang tersedia pada awal periode akuntansi. Nilai ini biasanya berasal dari persediaan akhir periode sebelumnya.
Contohnya, jika pada akhir Desember perusahaan masih memiliki stok senilai Rp30.000.000, maka angka tersebut menjadi persediaan awal untuk bulan Januari.
Pembelian Bersih
Pembelian bersih adalah total pembelian barang selama periode berjalan setelah dikurangi retur pembelian, diskon pembelian, atau potongan harga dari supplier.
Rumus sederhananya:
Pembelian Bersih = Total Pembelian – Retur Pembelian – Diskon Pembelian
Jika perusahaan membeli barang senilai Rp80.000.000, lalu ada retur Rp5.000.000 dan diskon Rp3.000.000, maka pembelian bersihnya adalah Rp72.000.000.
Persediaan Akhir
Persediaan akhir adalah nilai barang yang masih tersisa di akhir periode. Nilai ini diperoleh dari pencatatan stok, stock opname, atau sistem inventori.
Persediaan akhir dikurangkan dalam rumus COGS karena barang tersebut belum terjual. Artinya, biaya barang tersebut belum boleh diakui sebagai biaya pokok penjualan pada periode berjalan.
Contoh Perhitungan COGS
Misalnya, sebuah bisnis makanan kemasan memiliki data berikut selama bulan April:
- Persediaan awal: Rp40.000.000
- Pembelian bersih bahan dan barang dagang: Rp120.000.000
- Persediaan akhir: Rp35.000.000
Maka perhitungannya:
COGS = Rp40.000.000 + Rp120.000.000 – Rp35.000.000
COGS = Rp125.000.000
Artinya, biaya pokok dari barang yang berhasil dijual selama bulan April adalah Rp125.000.000.
Jika penjualan bersih selama bulan tersebut sebesar Rp200.000.000, maka laba kotornya adalah:
Laba Kotor = Penjualan Bersih – COGS
Laba Kotor = Rp200.000.000 – Rp125.000.000
Laba Kotor = Rp75.000.000
Dari sini, bisnis dapat menghitung margin laba kotor:
Margin Laba Kotor = Laba Kotor / Penjualan Bersih x 100%
Margin Laba Kotor = Rp75.000.000 / Rp200.000.000 x 100% = 37,5%
Angka margin ini menunjukkan bahwa dari setiap Rp100.000 penjualan, bisnis memperoleh laba kotor sebesar Rp37.500 sebelum dikurangi biaya operasional lainnya.
Langkah agar Perhitungan COGS Lebih Terstruktur
Agar perhitungan COGS tidak hanya benar secara rumus, tetapi juga berguna untuk pengambilan keputusan, bisnis perlu mengikuti proses yang rapi.
1. Tentukan Periode Perhitungan
Pertama, tentukan periode yang ingin dihitung. Periode bisa bulanan, kuartalan, semesteran, atau tahunan. Untuk bisnis yang perputaran barangnya cepat, seperti restoran, ritel, atau FMCG, perhitungan bulanan lebih disarankan agar perubahan biaya bisa segera terdeteksi.
2. Catat Persediaan Awal
Gunakan data persediaan akhir dari periode sebelumnya sebagai persediaan awal periode berjalan. Pastikan data ini sudah bersih dari barang rusak, barang kedaluwarsa, atau stok yang tidak bisa dijual.
3. Hitung Pembelian Bersih
Kumpulkan seluruh invoice pembelian dari supplier selama periode tersebut. Lalu kurangi dengan retur, diskon, atau potongan pembelian. Tahap ini penting karena total pembelian kotor tidak selalu mencerminkan biaya riil yang ditanggung bisnis.
4. Lakukan Stock Opname
Stock opname diperlukan untuk mengetahui nilai persediaan akhir secara akurat. Jika bisnis hanya mengandalkan catatan sistem tanpa pengecekan fisik, ada risiko perbedaan akibat barang hilang, rusak, salah input, atau belum tercatat.
5. Masukkan Data ke Rumus COGS
Setelah semua data tersedia, masukkan ke rumus COGS. Gunakan spreadsheet atau software akuntansi agar perhitungan lebih mudah ditelusuri.
6. Bandingkan dengan Penjualan
COGS tidak boleh dilihat sendirian. Bandingkan angka COGS dengan penjualan bersih untuk mengetahui laba kotor dan margin laba kotor. Jika margin menurun, bisnis perlu melakukan evaluasi lebih dalam.
7. Analisis Penyebab Perubahan
Jika COGS meningkat, cari penyebabnya. Jangan langsung menaikkan harga jual tanpa analisis. Bisa jadi masalahnya bukan hanya harga bahan baku, tetapi juga pemborosan produksi, stok rusak, supplier yang tidak efisien, atau permintaan produk yang berubah.
Manfaat Menghitung COGS
Menghitung COGS secara rutin memberi banyak manfaat praktis bagi bisnis. Tidak hanya untuk laporan keuangan, tetapi juga untuk strategi harga, efisiensi operasional, dan pengelolaan arus kas.
1. Membantu Menilai Profitabilitas Produk
Tidak semua produk yang laku keras memberikan keuntungan besar. Ada produk yang terlihat populer, tetapi margin labanya rendah karena biaya pokoknya tinggi. Dengan menghitung COGS, bisnis bisa mengetahui produk mana yang benar-benar menguntungkan dan produk mana yang perlu dievaluasi.
Misalnya, sebuah restoran memiliki dua menu. Menu A terjual banyak, tetapi bahan bakunya mahal dan proses pembuatannya lama. Menu B terjual lebih sedikit, tetapi margin labanya lebih tinggi. Data COGS membantu pemilik restoran menentukan menu mana yang perlu dipromosikan, dinaikkan harganya, atau disederhanakan proses produksinya.
2. Membantu Mengendalikan Harga Jual
Harga jual yang terlalu rendah bisa merusak margin. Harga jual yang terlalu tinggi bisa membuat pelanggan berpindah ke kompetitor. COGS membantu bisnis menemukan titik tengah yang lebih sehat.
Dengan mengetahui biaya pokok, perusahaan bisa menentukan harga jual berdasarkan target margin. Misalnya, jika COGS per unit Rp50.000 dan bisnis ingin margin kotor 40%, maka harga jual perlu dihitung dengan strategi yang lebih terukur, bukan sekadar menambahkan keuntungan secara asal.
3. Membantu Mengelola Persediaan
COGS dapat memberi sinyal tentang efektivitas pengelolaan stok. Jika pembelian terus meningkat tetapi penjualan tidak ikut naik, persediaan akhir bisa membesar. Ini dapat membuat modal tertahan di gudang.
Sebaliknya, jika persediaan terlalu kecil, bisnis bisa kehabisan stok dan kehilangan peluang penjualan. Dengan membaca hubungan antara COGS, persediaan awal, pembelian, dan persediaan akhir, bisnis bisa mengatur stok dengan lebih seimbang.
4. Membantu Perencanaan Anggaran
Data COGS dari periode sebelumnya bisa digunakan untuk menyusun anggaran periode berikutnya. Bisnis dapat memperkirakan kebutuhan pembelian, biaya produksi, kebutuhan bahan baku, dan potensi margin.
Perencanaan ini sangat penting untuk bisnis yang memiliki musim penjualan tertentu. Misalnya, bisnis hampers, makanan musiman, fashion Lebaran, atau produk akhir tahun. Dengan data COGS, perusahaan bisa menyiapkan modal kerja dengan lebih matang.
5. Membantu Negosiasi dengan Supplier
Jika COGS meningkat karena harga bahan baku naik, bisnis memiliki dasar data untuk bernegosiasi dengan supplier. Perusahaan bisa membandingkan harga antar pemasok, mencari skema pembelian grosir, atau menegosiasikan termin pembayaran yang lebih longgar.
Data COGS membuat negosiasi lebih objektif karena perusahaan tidak hanya mengandalkan perasaan bahwa biaya semakin mahal, tetapi memiliki angka yang jelas.
6. Membantu Mengukur Efisiensi Produksi
Pada bisnis manufaktur, COGS dapat menunjukkan apakah proses produksi berjalan efisien. Jika penggunaan bahan baku terlalu tinggi dibanding hasil produksi, ada kemungkinan terjadi pemborosan. Jika tenaga kerja langsung meningkat tetapi output tidak bertambah, proses kerja mungkin perlu diperbaiki.
Dengan begitu, COGS bukan hanya angka akuntansi, tetapi juga alat evaluasi operasional.
Faktor yang Bisa Membuat COGS Naik
COGS dapat berubah dari waktu ke waktu. Kenaikan COGS tidak selalu buruk, terutama jika terjadi karena volume penjualan meningkat. Namun, jika COGS naik lebih cepat daripada penjualan, bisnis perlu berhati-hati.
Beberapa faktor yang dapat membuat COGS naik antara lain:
- Harga bahan baku meningkat
- Biaya impor atau logistik naik
- Supplier menaikkan harga
- Tingkat barang rusak meningkat
- Proses produksi tidak efisien
- Tenaga kerja langsung bertambah tanpa kenaikan output
- Pembelian dilakukan dalam jumlah kecil sehingga harga satuan lebih tinggi
- Stok lama harus diturunkan nilainya
- Kurs mata uang berubah untuk bahan baku impor
- Perencanaan persediaan tidak akurat
Kenaikan COGS perlu dianalisis bersama data penjualan, margin, dan persediaan. Jika hanya melihat satu angka, bisnis bisa mengambil keputusan yang kurang tepat.
Cara Menekan COGS Tanpa Mengorbankan Kualitas
Menurunkan COGS bukan berarti menurunkan kualitas produk. Justru, bisnis yang sehat perlu mencari cara agar biaya lebih efisien tanpa merusak kepercayaan pelanggan.
1. Evaluasi Supplier Secara Berkala
Supplier yang tepat dapat membantu bisnis menjaga kualitas sekaligus mengendalikan biaya. Bandingkan harga, kualitas, konsistensi pengiriman, minimum order, dan termin pembayaran. Supplier termurah belum tentu terbaik jika sering terlambat atau kualitas barangnya tidak stabil.
2. Kurangi Pemborosan Produksi
Untuk bisnis produksi, pemborosan bahan baku bisa menjadi penyebab COGS membengkak. Buat standar penggunaan bahan, catat tingkat reject, dan analisis proses yang paling sering menyebabkan kerugian.
3. Perbaiki Perencanaan Stok
Stok berlebih dapat membuat modal tertahan dan meningkatkan risiko barang rusak atau kedaluwarsa. Sebaliknya, stok terlalu sedikit dapat menghambat penjualan. Perencanaan stok yang baik membantu bisnis menjaga COGS tetap sehat.
4. Gunakan Data Penjualan untuk Produksi
Jangan hanya memproduksi berdasarkan perkiraan. Gunakan data penjualan historis untuk menentukan jumlah produksi atau pembelian. Dengan begitu, bisnis bisa menghindari stok berlebih dan biaya yang tidak perlu.
5. Tinjau Ulang Produk dengan Margin Rendah
Jika ada produk yang COGS-nya terlalu tinggi, bisnis bisa mempertimbangkan beberapa opsi: menaikkan harga, mengubah ukuran produk, mencari bahan alternatif, mengurangi kompleksitas produksi, atau menghentikan produk jika tidak lagi menguntungkan.
Perbedaan COGS dan COGM
Selain COGS, ada juga istilah COGM atau Cost of Goods Manufactured. Keduanya sering terdengar mirip, tetapi memiliki fungsi yang berbeda.
COGM adalah biaya produksi barang yang selesai dibuat dalam periode tertentu. Istilah ini lebih sering digunakan dalam perusahaan manufaktur karena fokusnya adalah proses produksi, bukan penjualan.
Sementara itu, COGS adalah biaya dari barang yang sudah terjual. Artinya, barang yang selesai diproduksi tetapi belum terjual belum masuk COGS. Barang tersebut masih menjadi persediaan barang jadi.
Agar lebih mudah, bayangkan sebuah pabrik sepatu:
- Dalam bulan Mei, pabrik menyelesaikan produksi 10.000 pasang sepatu.
- Dari jumlah tersebut, hanya 7.000 pasang yang terjual.
- Biaya untuk memproduksi 10.000 pasang sepatu berkaitan dengan COGM.
- Biaya untuk 7.000 pasang sepatu yang terjual berkaitan dengan COGS.
- Sisa 3.000 pasang sepatu masih menjadi persediaan akhir.
Berikut perbedaan ringkasnya:
| Aspek | COGS | COGM |
| Kepanjangan | Cost of Goods Sold | Cost of Goods Manufactured |
| Fokus | Barang yang sudah terjual | Barang yang sudah selesai diproduksi |
| Digunakan untuk | Menghitung laba kotor | Mengukur biaya produksi barang jadi |
| Umum digunakan oleh | Bisnis dagang, ritel, manufaktur | Terutama bisnis manufaktur |
| Masuk laporan | Laporan laba rugi | Perhitungan biaya produksi dan persediaan |
| Berkaitan dengan | Penjualan | Produksi |
Dengan memahami perbedaan ini, perusahaan bisa memisahkan biaya produksi dan biaya penjualan secara lebih tepat. Hal ini penting terutama untuk bisnis manufaktur yang memiliki bahan baku, barang dalam proses, barang jadi, dan barang terjual dalam satu siklus operasional.
Contoh Sederhana COGS dalam Bisnis
Agar konsep COGS lebih mudah dipahami, mari gunakan contoh bisnis kopi kemasan.
Sebuah usaha kopi kemasan memiliki data berikut untuk bulan Juni:
- Persediaan awal kopi kemasan: Rp20.000.000
- Pembelian biji kopi, kemasan, dan bahan langsung: Rp65.000.000
- Retur pembelian karena bahan rusak: Rp5.000.000
- Persediaan akhir: Rp18.000.000
- Penjualan bersih: Rp120.000.000
Pertama, hitung pembelian bersih:
Pembelian Bersih = Rp65.000.000 – Rp5.000.000 = Rp60.000.000
Lalu, hitung COGS:
COGS = Rp20.000.000 + Rp60.000.000 – Rp18.000.000
COGS = Rp62.000.000
Kemudian, hitung laba kotor:
Laba Kotor = Rp120.000.000 – Rp62.000.000
Laba Kotor = Rp58.000.000
Dari angka ini, bisnis dapat melihat bahwa biaya pokok barang yang terjual adalah Rp62.000.000, sedangkan laba kotor yang tersisa sebelum biaya operasional adalah Rp58.000.000. Jika bulan berikutnya COGS naik menjadi Rp80.000.000 dengan penjualan yang sama, maka bisnis perlu segera mengevaluasi penyebabnya.
Kesalahan Umum dalam Menghitung COGS
Banyak bisnis kecil dan menengah masih menghitung COGS secara sederhana. Hal ini wajar, tetapi ada beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari.
1. Mencampur Biaya Operasional ke Dalam COGS
Kesalahan pertama adalah memasukkan semua biaya bisnis ke dalam COGS. Misalnya, biaya iklan, gaji admin, internet kantor, dan biaya promosi ikut dimasukkan ke biaya pokok. Akibatnya, COGS terlihat terlalu besar dan laba kotor terlihat lebih kecil dari seharusnya.
2. Tidak Melakukan Stock Opname
Tanpa stock opname, persediaan akhir bisa tidak akurat. Jika persediaan akhir salah, COGS juga akan salah. Ini bisa terjadi karena barang rusak, hilang, kedaluwarsa, atau belum tercatat di sistem.
3. Mengabaikan Retur dan Diskon Pembelian
Pembelian bersih harus memperhitungkan retur dan diskon. Jika bisnis hanya mencatat total pembelian tanpa pengurangan tersebut, COGS bisa terlihat lebih besar dari biaya sebenarnya.
4. Tidak Memisahkan Barang Terjual dan Belum Terjual
COGS hanya mencakup barang yang terjual. Barang yang belum terjual tetap dicatat sebagai persediaan. Jika semua biaya pembelian langsung dimasukkan ke COGS, laporan laba rugi bisa menjadi tidak akurat.
5. Tidak Konsisten Menggunakan Metode Persediaan
Metode penilaian persediaan mempengaruhi COGS. Jika bisnis sering mengganti metode tanpa alasan yang jelas, laporan keuangan menjadi sulit dibandingkan antarperiode. Karena itu, perusahaan perlu konsisten menggunakan metode yang sesuai dengan karakter bisnisnya.
Kesimpulan
COGS adalah biaya langsung yang berkaitan dengan barang yang telah terjual dalam suatu periode. Dalam bahasa Indonesia, COGS umumnya dikenal sebagai HPP atau Harga Pokok Penjualan. Memahami arti COGS penting karena angka ini digunakan untuk menghitung laba kotor, menentukan harga jual, mengevaluasi margin, mengelola persediaan, dan menilai efisiensi bisnis.
Secara umum, rumus COGS adalah persediaan awal + pembelian bersih – persediaan akhir. Rumus ini terlihat sederhana, tetapi membutuhkan pencatatan yang rapi agar hasilnya akurat. Bisnis perlu memastikan data persediaan, pembelian, retur, diskon, dan stok akhir sudah tercatat dengan benar.
COGS juga perlu dibedakan dari COGM. Pada dasarnya, COGM berfokus pada biaya barang yang selesai diproduksi, sedangkan COGS berfokus pada biaya barang yang sudah terjual. Perbedaan ini penting terutama untuk perusahaan manufaktur yang memiliki proses produksi lebih panjang.
Ketika COGS meningkat, margin laba bisa tertekan dan arus kas bisnis ikut terganggu, terutama jika perusahaan harus membeli bahan baku atau stok baru sebelum pembayaran dari pelanggan diterima. Untuk membantu menjaga modal kerja tetap lancar, bisnis dapat memanfaatkan solusi Invoice Financing dari OnlinePajak.
Dengan solusi ini, invoice yang belum jatuh tempo dapat digunakan untuk memperoleh pendanaan lebih cepat, sehingga bisnis bisa tetap membeli persediaan, membayar supplier, dan menjaga operasional tanpa harus menunggu pembayaran pelanggan terlalu lama. Pelajari selengkapnya melaluisolusi pendanaan modal kerja OnlinePajak.