Resources / Blog / Bisnis

Laporan Keuangan Perusahaan Dagang: Jenis, Contoh, dan Cara Membuatnya

Dalam menjalankan bisnis dagang, keuntungan tidak hanya dilihat dari banyaknya produk yang berhasil terjual. Pemilik usaha juga perlu mengetahui berapa modal yang keluar, berapa nilai persediaan yang masih tersimpan, berapa utang yang harus dibayar, berapa piutang yang belum tertagih, serta apakah kas perusahaan benar-benar sehat untuk menjalankan operasional berikutnya.

Di sinilah laporan keuangan perusahaan dagang memiliki peran penting. Laporan ini membantu pemilik bisnis membaca kondisi usaha secara lebih jelas, bukan hanya berdasarkan perkiraan atau jumlah uang yang terlihat di rekening. Dengan laporan yang rapi, perusahaan dapat mengetahui apakah bisnis sedang tumbuh, stagnan, atau justru mengalami masalah yang perlu segera diperbaiki.

Berbeda dari perusahaan jasa, perusahaan dagang memiliki aktivitas utama berupa membeli barang dari pemasok lalu menjualnya kembali kepada pelanggan tanpa mengubah bentuk barang tersebut secara signifikan. Karena itu, laporan keuangan perusahaan dagang biasanya lebih menekankan pada penjualan, harga pokok penjualan, persediaan barang, utang kepada pemasok, piutang pelanggan, dan arus kas dari aktivitas jual beli.

Artikel ini akan membahas pengertian, jenis, contoh laporan keuangan perusahaan dagang, serta cara membuat laporan keuangan perusahaan dagang secara praktis agar lebih mudah dipahami oleh pemilik bisnis.

Apa Itu Laporan Keuangan Perusahaan Dagang?

Laporan keuangan perusahaan dagang adalah catatan terstruktur yang menyajikan kondisi keuangan, kinerja usaha, perubahan modal, posisi aset dan kewajiban, serta pergerakan kas dalam satu periode tertentu. Periode ini bisa bulanan, kuartalan, semesteran, atau tahunan, tergantung kebutuhan bisnis.

Dalam perusahaan dagang, laporan keuangan tidak hanya mencatat pemasukan dan pengeluaran. Laporan ini juga harus memperhatikan transaksi khas bisnis perdagangan, seperti pembelian barang dagangan, retur pembelian, retur penjualan, diskon penjualan, persediaan awal, persediaan akhir, serta harga pokok penjualan.

Misalnya, sebuah toko elektronik memperoleh omzet Rp300 juta dalam sebulan. Angka tersebut terlihat besar. Namun, setelah dihitung, ternyata harga pokok barang mencapai Rp230 juta, biaya operasional Rp50 juta, dan masih ada barang rusak senilai Rp10 juta. Dari sini terlihat bahwa omzet besar tidak selalu berarti laba besar. Tanpa laporan keuangan, pemilik usaha bisa salah menilai kondisi bisnisnya sendiri.

Itulah mengapa laporan keuangan menjadi alat bantu penting untuk membaca kesehatan usaha secara objektif.

Mengapa Laporan Keuangan Penting untuk Perusahaan Dagang?

Laporan keuangan perusahaan dagang memiliki banyak fungsi strategis. Bukan hanya untuk kebutuhan akuntansi, tetapi juga untuk pengambilan keputusan bisnis sehari-hari.

Pertama, laporan keuangan membantu pemilik usaha mengetahui laba atau rugi secara akurat. Penjualan yang ramai belum tentu menghasilkan keuntungan apabila harga pokok, biaya operasional, retur, dan beban lain tidak dihitung dengan benar.

Kedua, laporan keuangan membantu mengontrol persediaan. Dalam bisnis dagang, stok barang adalah aset penting. Jika stok terlalu banyak, modal bisa tertahan di gudang. Jika stok terlalu sedikit, perusahaan bisa kehilangan peluang penjualan. Dengan laporan yang baik, perusahaan dapat melihat barang mana yang cepat terjual dan mana yang perputarannya lambat.

Ketiga, laporan keuangan membantu memantau utang dan piutang. Banyak perusahaan dagang membeli barang secara kredit dari pemasok atau menjual barang dengan sistem pembayaran tempo kepada pelanggan. Tanpa pencatatan yang rapi, perusahaan bisa kesulitan mengetahui siapa yang harus ditagih dan kapan utang harus dibayar.

Keempat, laporan keuangan menjadi dasar untuk mengajukan pinjaman, mencari investor, mengurus pajak, atau mengevaluasi strategi bisnis. Bank, investor, dan pihak eksternal lainnya biasanya membutuhkan data keuangan yang jelas sebelum mengambil keputusan.

Dengan kata lain, laporan keuangan bukan sekadar dokumen administratif. Laporan ini adalah peta yang membantu pemilik bisnis memahami arah perjalanan usahanya.

Jenis-Jenis Laporan Keuangan Perusahaan Dagang

Secara umum, ada beberapa jenis laporan keuangan yang perlu dimiliki perusahaan dagang. Setiap laporan memiliki fungsi berbeda, tetapi saling terhubung satu sama lain.

1. Laporan Laba Rugi Perusahaan Dagang

Laporan laba rugi perusahaan dagang adalah laporan yang menunjukkan pendapatan, harga pokok penjualan, beban usaha, serta laba atau rugi perusahaan dalam periode tertentu. Laporan ini menjawab pertanyaan utama: apakah bisnis menghasilkan keuntungan atau justru mengalami kerugian?

Komponen penting dalam laporan laba rugi perusahaan dagang meliputi penjualan bersih, harga pokok penjualan, laba kotor, beban operasional, dan laba bersih.

Penjualan bersih diperoleh dari total penjualan setelah dikurangi retur penjualan dan potongan penjualan. Harga pokok penjualan dihitung dari persediaan awal ditambah pembelian bersih, lalu dikurangi persediaan akhir. Laba kotor diperoleh dari penjualan bersih dikurangi harga pokok penjualan. Setelah itu, laba kotor dikurangi beban operasional untuk mendapatkan laba bersih.

Contoh sederhana laporan laba rugi perusahaan dagang:

PT XYZ
Laporan Laba Rugi
Periode Januari 2026

Penjualan: Rp250.000.000
Retur Penjualan: Rp5.000.000
Potongan Penjualan: Rp3.000.000
Penjualan Bersih: Rp242.000.000

Persediaan Awal: Rp80.000.000
Pembelian: Rp120.000.000
Retur Pembelian: Rp4.000.000
Potongan Pembelian: Rp2.000.000
Pembelian Bersih: Rp114.000.000
Barang Tersedia untuk Dijual: Rp194.000.000
Persediaan Akhir: Rp70.000.000
Harga Pokok Penjualan: Rp124.000.000

Laba Kotor: Rp118.000.000

Beban Gaji: Rp25.000.000
Beban Sewa: Rp10.000.000
Beban Listrik dan Air: Rp3.500.000
Beban Pengiriman: Rp4.500.000
Beban Promosi: Rp7.000.000
Total Beban Operasional: Rp50.000.000

Laba Bersih: Rp68.000.000

Dari contoh laporan keuangan perusahaan dagang ini, pemilik usaha dapat melihat bahwa perusahaan tidak hanya menghasilkan penjualan, tetapi juga masih memiliki laba bersih setelah semua beban dihitung.

2. Laporan Neraca Perusahaan Dagang

Laporan neraca adalah laporan yang menunjukkan posisi aset, kewajiban, dan modal perusahaan pada tanggal tertentu. Jika laporan laba rugi menggambarkan performa bisnis selama satu periode, neraca menggambarkan kondisi keuangan perusahaan pada satu titik waktu.

Dalam perusahaan dagang, aset biasanya mencakup kas, piutang usaha, persediaan barang dagangan, perlengkapan, kendaraan, peralatan toko, atau aset tetap lainnya. Kewajiban mencakup utang usaha kepada pemasok, utang bank, utang pajak, atau kewajiban lain yang harus dibayar. Modal menunjukkan hak pemilik atas aset perusahaan setelah dikurangi kewajiban.

Rumus dasar neraca adalah:

Aset = Kewajiban + Modal

Contoh sederhana neraca perusahaan dagang:

PT XYZ
Neraca
Per 31 Januari 2026

Aset
Kas: Rp90.000.000
Piutang Usaha: Rp35.000.000
Persediaan Barang Dagangan: Rp70.000.000
Perlengkapan Toko: Rp5.000.000
Peralatan Toko: Rp40.000.000
Total Aset: Rp240.000.000

Kewajiban
Utang Usaha: Rp45.000.000
Utang Gaji: Rp5.000.000
Utang Pajak: Rp8.000.000
Total Kewajiban: Rp58.000.000

Modal
Modal Pemilik: Rp114.000.000
Laba Bersih Berjalan: Rp68.000.000
Total Modal: Rp182.000.000

Total Kewajiban dan Modal: Rp240.000.000

Jika total aset sama dengan total kewajiban dan modal, neraca dinyatakan seimbang. Keseimbangan ini penting karena menunjukkan bahwa pencatatan telah mengikuti prinsip dasar akuntansi.

3. Laporan Arus Kas Perusahaan Dagang

Laporan arus kas menunjukkan aliran uang masuk dan keluar perusahaan dalam periode tertentu. Laporan ini penting karena laba belum tentu sama dengan kas yang tersedia.

Sebagai contoh, perusahaan bisa mencatat penjualan besar secara kredit. Di laporan laba rugi, transaksi tersebut dapat menambah pendapatan. Namun, jika pelanggan belum membayar, kas perusahaan belum benar-benar bertambah. Inilah alasan laporan arus kas sangat penting.

Laporan arus kas biasanya dibagi menjadi tiga aktivitas, yaitu aktivitas operasi, aktivitas investasi, dan aktivitas pendanaan.

Aktivitas operasi mencakup penerimaan kas dari pelanggan, pembayaran kepada pemasok, pembayaran gaji, pembayaran sewa, dan beban operasional lain. Aktivitas investasi mencakup pembelian atau penjualan aset tetap, seperti kendaraan atau peralatan toko. Aktivitas pendanaan mencakup tambahan modal, pembayaran pinjaman, atau pengambilan dana oleh pemilik.

Contoh sederhana laporan arus kas perusahaan dagang:

PT XYZ
Laporan Arus Kas
Periode Januari 2026

Arus Kas dari Aktivitas Operasi
Penerimaan dari Pelanggan: Rp220.000.000
Pembayaran kepada Pemasok: Rp110.000.000
Pembayaran Gaji: Rp25.000.000
Pembayaran Sewa: Rp10.000.000
Pembayaran Beban Operasional Lain: Rp15.000.000
Kas Bersih dari Aktivitas Operasi: Rp60.000.000

Arus Kas dari Aktivitas Investasi
Pembelian Peralatan Toko: Rp10.000.000
Kas Bersih dari Aktivitas Investasi: Rp10.000.000

Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan
Tambahan Modal Pemilik: Rp20.000.000
Pembayaran Pinjaman: Rp5.000.000
Kas Bersih dari Aktivitas Pendanaan: Rp15.000.000

Kenaikan Bersih Kas: Rp65.000.000
Kas Awal Periode: Rp25.000.000
Kas Akhir Periode: Rp90.000.000

Melalui laporan ini, pemilik usaha dapat mengetahui apakah kas perusahaan cukup untuk membeli stok baru, membayar pemasok, atau memenuhi kebutuhan operasional berikutnya.

4. Laporan Perubahan Modal

Laporan perubahan modal menunjukkan perubahan ekuitas pemilik dalam satu periode. Laporan ini biasanya mencatat modal awal, tambahan modal, laba bersih, pengambilan pribadi atau prive, dan modal akhir.

Bagi perusahaan dagang skala kecil dan menengah, laporan ini sangat berguna karena pemilik usaha sering kali masih mencampur uang pribadi dan uang bisnis. Dengan laporan perubahan modal, pemilik dapat melihat apakah modal usaha bertambah karena laba, atau justru berkurang karena pengambilan dana yang terlalu besar.

Contoh sederhana laporan perubahan modal:

PT XYZ
Laporan Perubahan Modal
Periode Januari 2026

Modal Awal: Rp114.000.000
Tambahan Modal: Rp20.000.000
Laba Bersih: Rp68.000.000
Prive: Rp20.000.000
Modal Akhir: Rp182.000.000

Laporan ini membantu pemilik usaha memahami pertumbuhan modal dari waktu ke waktu.

5. Laporan Utang Perusahaan Dagang

Laporan utang berisi daftar kewajiban perusahaan kepada pemasok atau pihak lain. Dalam bisnis dagang, pembelian barang secara kredit adalah hal yang umum. Karena itu, laporan utang sangat penting agar perusahaan tidak terlambat membayar dan tetap menjaga hubungan baik dengan supplier.

Laporan utang biasanya memuat nama pemasok, nomor invoice, tanggal transaksi, tanggal jatuh tempo, jumlah utang, pembayaran yang sudah dilakukan, dan sisa saldo utang.

Contoh format laporan utang:

Nama Supplier: PT Grosir XYZ
No. Invoice: INV-001
Tanggal Pembelian: 5 Januari 2026
Jatuh Tempo: 5 Februari 2026
Total Utang: Rp30.000.000
Pembayaran: Rp10.000.000
Saldo Akhir: Rp20.000.000

Dengan laporan ini, perusahaan bisa mengatur prioritas pembayaran dan menghindari denda keterlambatan.

6. Laporan Persediaan Barang

Laporan persediaan barang adalah laporan yang mencatat jumlah dan nilai stok barang dagangan. Laporan ini penting karena persediaan merupakan salah satu aset utama dalam perusahaan dagang.

Laporan persediaan biasanya mencakup kode barang, nama barang, stok awal, pembelian, penjualan, retur, stok akhir, harga pokok per unit, dan total nilai persediaan.

Contoh sederhana laporan persediaan:

Kode Barang: BRG-001
Nama Barang: Rice Cooker 1 Liter
Stok Awal: 50 unit
Pembelian: 30 unit
Penjualan: 45 unit
Stok Akhir: 35 unit
Harga Pokok per Unit: Rp250.000
Nilai Persediaan Akhir: Rp8.750.000

Laporan persediaan membantu perusahaan mengetahui barang mana yang cepat terjual, barang mana yang menumpuk, dan kapan harus melakukan pembelian ulang. Tanpa laporan ini, perusahaan bisa mengalami dua masalah sekaligus: kehabisan barang yang laku atau menyimpan terlalu banyak barang yang sulit dijual.

Cara Membuat Laporan Keuangan Perusahaan Dagang

Membuat laporan keuangan perusahaan dagang membutuhkan alur yang rapi. Tujuannya agar data yang masuk ke laporan benar-benar berasal dari transaksi yang valid.

1. Kumpulkan Semua Bukti Transaksi

Langkah pertama adalah mengumpulkan seluruh bukti transaksi, seperti faktur penjualan, nota pembelian, bukti pembayaran, bukti transfer, invoice supplier, data retur, bukti biaya operasional, dan catatan stok.

Bukti transaksi adalah dasar pencatatan. Tanpa bukti yang lengkap, laporan keuangan rawan keliru. Misalnya, ada pembayaran kepada supplier yang lupa dicatat, atau ada retur penjualan yang tidak masuk ke laporan. Kesalahan kecil seperti ini bisa memengaruhi laba, stok, dan kas perusahaan.

2. Catat Transaksi ke Jurnal

Setelah bukti transaksi terkumpul, setiap transaksi perlu dicatat ke jurnal. Untuk perusahaan dagang, jurnal biasanya mencakup transaksi penjualan, pembelian, retur, potongan harga, pembayaran utang, penerimaan piutang, dan biaya operasional.

Pencatatan jurnal membantu perusahaan melihat kronologi transaksi. Dengan begitu, setiap angka dalam laporan keuangan dapat ditelusuri kembali ke sumbernya.

3. Posting ke Buku Besar

Setelah dicatat dalam jurnal, transaksi dipindahkan ke buku besar sesuai akun masing-masing. Misalnya, transaksi penjualan masuk ke akun penjualan, pembelian barang masuk ke akun pembelian, pembayaran sewa masuk ke akun beban sewa, dan seterusnya.

Buku besar membantu mengelompokkan transaksi agar lebih mudah dihitung pada akhir periode.

4. Susun Neraca Saldo

Neraca saldo berisi daftar saldo dari setiap akun dalam buku besar. Tujuannya adalah memastikan total debit dan kredit sudah seimbang.

Apabila angka debit dan kredit tidak sama, berarti ada kemungkinan kesalahan pencatatan. Kesalahan ini perlu dicari sebelum laporan keuangan disusun.

5. Buat Jurnal Penyesuaian

Jurnal penyesuaian dibuat untuk menyesuaikan transaksi yang belum tercatat secara tepat pada akhir periode. Contohnya adalah penyusutan aset, beban yang masih harus dibayar, pendapatan yang masih harus diterima, atau penyesuaian persediaan.

Dalam perusahaan dagang, penyesuaian persediaan sangat penting karena nilai persediaan akhir akan memengaruhi harga pokok penjualan dan laba bersih.

6. Susun Neraca Lajur

Neraca lajur atau worksheet digunakan untuk membantu proses penyusunan laporan keuangan. Di dalamnya terdapat kolom neraca saldo, penyesuaian, neraca saldo setelah penyesuaian, laporan laba rugi, dan neraca.

Meskipun tidak selalu wajib, neraca lajur sangat membantu, terutama jika perusahaan masih menyusun laporan secara manual.

7. Buat Laporan Keuangan Utama

Setelah data siap, perusahaan dapat menyusun laporan laba rugi, laporan perubahan modal, neraca, laporan arus kas, laporan utang, dan laporan persediaan. Setiap laporan sebaiknya dibuat dengan format yang konsisten agar mudah dibandingkan dari periode ke periode.

8. Lakukan Penutupan Akun

Pada akhir periode, akun nominal seperti pendapatan dan beban perlu ditutup. Proses ini membantu perusahaan memulai periode baru dengan saldo yang bersih untuk akun-akun sementara.

Setelah penutupan dilakukan, perusahaan dapat membuat neraca saldo setelah penutupan untuk memastikan akun-akun yang masih terbuka sudah seimbang.

Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Membuat Laporan Keuangan Perusahaan Dagang

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah mencampur uang pribadi dan uang usaha. Hal ini membuat laporan sulit dibaca karena kas bisnis tidak lagi mencerminkan kondisi usaha yang sebenarnya.

Kesalahan lainnya adalah tidak mencatat persediaan secara rutin. Dalam bisnis dagang, stok barang sangat memengaruhi laba. Jika stok akhir tidak akurat, harga pokok penjualan juga bisa salah.

Selain itu, banyak bisnis hanya fokus pada omzet, tetapi lupa menghitung biaya operasional secara detail. Padahal, biaya kecil seperti ongkos kirim, biaya kemasan, biaya admin marketplace, dan biaya promosi dapat mengurangi laba secara signifikan jika tidak dikendalikan.

Perusahaan juga sering terlambat mencatat piutang dan utang. Akibatnya, kas terlihat aman, padahal ada pembayaran besar yang akan jatuh tempo atau ada tagihan pelanggan yang belum tertagih.

Kesimpulan

Laporan keuangan perusahaan dagang adalah alat penting untuk memahami kondisi bisnis secara menyeluruh. Melalui laporan laba rugi, perusahaan dapat mengetahui kinerja penjualan dan laba. Melalui neraca, perusahaan dapat melihat posisi aset, kewajiban, dan modal. Melalui laporan arus kas, perusahaan dapat memahami pergerakan uang masuk dan keluar. Sementara itu, laporan utang, laporan persediaan, dan laporan perubahan modal membantu pemilik usaha mengontrol bagian penting lain dalam operasional perdagangan.

Dengan memahami contoh laporan keuangan perusahaan dagang dan cara membuat laporan keuangan perusahaan dagang, pemilik usaha dapat mengambil keputusan yang lebih tepat. Mulai dari menentukan strategi pembelian stok, mengatur pembayaran supplier, mengevaluasi biaya operasional, hingga menilai apakah bisnis siap berkembang ke tahap berikutnya.

Namun, laporan keuangan yang rapi juga sering menunjukkan satu tantangan umum dalam bisnis dagang: arus kas bisa tertekan meskipun penjualan berjalan baik, terutama ketika banyak invoice belum dibayar pelanggan. Jika bisnis Anda membutuhkan dana lebih cepat untuk menjaga stok, membayar supplier, atau memenuhi kebutuhan operasional, Invoice Financing dari OnlinePajak dapat menjadi solusi pendanaan yang membantu mengubah invoice berjalan menjadi modal kerja. Dengan begitu, bisnis tetap bisa bergerak tanpa harus menunggu pembayaran pelanggan terlalu lama.

Reading: Laporan Keuangan Perusahaan Dagang: Jenis, Contoh, dan Cara Membuatnya