Resources / Blog / Bisnis

Rumus Safety Stock dan Reorder Point: Cara Mencari dan Menghitungnya

Dalam bisnis yang berhubungan dengan barang, stok bukan sekadar angka di gudang. Stok adalah bagian penting dari kelancaran penjualan, kepuasan pelanggan, dan kesehatan arus kas perusahaan. Ketika stok terlalu sedikit, bisnis bisa kehilangan peluang penjualan. Namun, ketika stok terlalu banyak, modal kerja bisa tertahan terlalu lama di gudang.

Di sinilah pentingnya memahami rumus safety stock dan reorder point. Keduanya membantu bisnis menentukan berapa banyak stok cadangan yang perlu disiapkan dan kapan waktu terbaik untuk melakukan pemesanan ulang. Dengan perhitungan yang tepat, bisnis dapat menjaga persediaan tetap aman tanpa harus menimbun barang secara berlebihan.

Safety stock berfungsi sebagai stok pengaman untuk menghadapi permintaan yang berubah, keterlambatan pemasok, atau kondisi pasar yang tidak selalu bisa diprediksi. Sementara itu, reorder point membantu bisnis mengetahui batas minimum stok sebelum harus melakukan pembelian ulang. Dengan kata lain, safety stock adalah “bantalan keamanan”, sedangkan reorder point adalah “alarm” yang memberi tahu kapan stok perlu ditambah.

Artikel ini akan membahas pengertian, manfaat, rumus mencari safety stock, rumus safety stock dan reorder point, hingga contoh perhitungannya secara praktis agar lebih mudah diterapkan dalam bisnis.

Apa Itu Safety Stock?

Safety stock adalah persediaan tambahan yang disiapkan perusahaan untuk mengantisipasi risiko kehabisan barang. Risiko ini bisa muncul karena berbagai hal, seperti permintaan pelanggan yang tiba-tiba meningkat, keterlambatan pengiriman dari pemasok, kesalahan perkiraan penjualan, atau gangguan dalam rantai pasok.

Misalnya, sebuah toko biasanya menjual 20 unit produk per hari. Namun, pada periode tertentu, penjualan bisa naik menjadi 35 unit per hari karena promo, musim liburan, atau tren pasar. Jika toko hanya menyediakan stok berdasarkan penjualan rata-rata, maka kemungkinan besar stok akan habis sebelum pesanan baru datang. Safety stock membantu menutup celah tersebut.

Secara sederhana, safety stock dapat dipahami sebagai stok cadangan yang tidak digunakan untuk penjualan normal, tetapi disiapkan untuk kondisi tidak terduga. Jumlahnya tidak boleh ditentukan sembarangan, karena terlalu sedikit bisa membuat bisnis tetap rentan kehabisan stok, sedangkan terlalu banyak bisa membuat biaya penyimpanan membengkak.

Karena itu, bisnis perlu menggunakan rumus safety stock agar jumlah stok pengaman lebih terukur dan sesuai dengan kebutuhan operasional.

Mengapa Safety Stock Penting untuk Bisnis?

Safety stock memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas operasional. Terutama bagi bisnis dagang, manufaktur, ritel, distributor, hingga bisnis online yang sangat bergantung pada ketersediaan barang.

Berikut beberapa alasan mengapa safety stock penting untuk bisnis.

1. Mencegah Kehabisan Stok

Kehabisan stok atau stockout adalah salah satu masalah yang paling merugikan bisnis. Ketika pelanggan ingin membeli produk tetapi barang tidak tersedia, bisnis bukan hanya kehilangan transaksi saat itu, tetapi juga berisiko kehilangan kepercayaan pelanggan.

Pelanggan yang kecewa bisa beralih ke kompetitor. Jika kondisi ini terjadi berulang, reputasi bisnis bisa terganggu. Safety stock membantu bisnis tetap memiliki cadangan barang ketika permintaan naik di luar perkiraan.

2. Mengantisipasi Keterlambatan Supplier

Tidak semua pemasok bisa mengirim barang tepat waktu. Keterlambatan dapat terjadi karena kendala produksi, distribusi, cuaca, logistik, atau masalah administratif. Jika bisnis tidak memiliki safety stock, keterlambatan kecil sekalipun dapat mengganggu penjualan.

Dengan safety stock, bisnis memiliki waktu tambahan untuk menunggu pasokan datang tanpa harus langsung menghentikan penjualan.

3. Menjaga Kepuasan Pelanggan

Ketersediaan barang adalah bagian dari pengalaman pelanggan. Ketika pelanggan dapat membeli produk yang mereka butuhkan tepat waktu, mereka akan merasa lebih puas. Sebaliknya, stok yang sering kosong dapat membuat pelanggan ragu untuk kembali.

Safety stock membantu bisnis memberikan layanan yang lebih konsisten, terutama untuk produk-produk yang memiliki permintaan tinggi.

4. Membantu Perencanaan Produksi dan Pembelian

Bagi bisnis manufaktur, safety stock membantu menjaga bahan baku tetap tersedia sehingga proses produksi tidak berhenti. Bagi bisnis dagang, safety stock membantu tim pembelian menentukan kapan harus melakukan pemesanan ulang.

Dengan perhitungan yang tepat, bisnis dapat menghindari pembelian mendadak yang biasanya lebih mahal karena harus menggunakan pengiriman cepat atau membeli dari pemasok alternatif dengan harga lebih tinggi.

5. Menjaga Arus Kas Tetap Sehat

Safety stock yang dihitung dengan benar dapat membantu bisnis menjaga keseimbangan antara ketersediaan barang dan penggunaan modal. Stok yang terlalu banyak membuat dana tertahan di gudang. Sebaliknya, stok yang terlalu sedikit bisa membuat bisnis kehilangan penjualan.

Karena itu, rumus mencari safety stock sangat penting untuk membantu bisnis menentukan cadangan persediaan secara proporsional.

Apa Itu Reorder Point?

Reorder point adalah titik atau batas minimum stok yang menandakan bahwa bisnis harus segera melakukan pemesanan ulang. Jika jumlah stok sudah mencapai angka reorder point, artinya bisnis perlu membeli atau memproduksi barang lagi agar stok tidak habis sebelum persediaan baru datang.

Reorder point berkaitan erat dengan safety stock. Safety stock menjadi salah satu komponen dalam perhitungan reorder point karena stok cadangan harus tetap tersedia selama bisnis menunggu pesanan baru tiba.

Sebagai contoh, sebuah toko membutuhkan waktu 5 hari untuk menerima barang dari supplier. Jika rata-rata penjualan produk adalah 10 unit per hari, maka selama masa tunggu tersebut toko membutuhkan 50 unit. Namun, jika toko juga ingin menyiapkan safety stock sebanyak 20 unit, maka reorder point-nya menjadi 70 unit.

Artinya, ketika stok tersisa 70 unit, toko harus segera melakukan pemesanan ulang. Jika menunggu sampai stok tinggal 20 unit, kemungkinan besar barang akan habis sebelum pesanan baru tiba.

Perbedaan Safety Stock dan Reorder Point

Safety stock dan reorder point sering dibahas bersamaan karena saling berkaitan. Namun, keduanya memiliki fungsi yang berbeda.

Safety stock adalah jumlah stok cadangan yang disiapkan untuk menghadapi ketidakpastian. Fokusnya adalah perlindungan dari risiko, seperti lonjakan permintaan atau keterlambatan pemasok.

Sementara itu, reorder point adalah batas stok yang menjadi tanda bahwa bisnis harus melakukan pemesanan ulang. Fokusnya adalah waktu pengambilan keputusan pembelian atau produksi.

Agar lebih mudah dipahami, bayangkan stok bisnis seperti bahan bakar kendaraan. Safety stock adalah bahan bakar cadangan agar kendaraan tidak langsung berhenti ketika jarak tempuh lebih jauh dari perkiraan. Reorder point adalah lampu indikator yang menyala untuk memberi tahu bahwa bahan bakar perlu segera diisi ulang.

Keduanya dibutuhkan agar bisnis tidak hanya memiliki stok cadangan, tetapi juga tahu kapan harus menambah stok secara tepat.

Faktor yang Mempengaruhi Safety Stock

Sebelum menggunakan rumus safety stock, bisnis perlu memahami faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah stok cadangan. Hal ini penting karena setiap produk bisa memiliki kebutuhan safety stock yang berbeda.

1. Rata-Rata Penjualan Harian

Rata-rata penjualan harian menunjukkan berapa banyak produk yang biasanya terjual dalam satu hari. Semakin tinggi penjualan harian, semakin besar kebutuhan stok cadangan.

Contohnya, produk yang terjual 100 unit per hari tentu membutuhkan safety stock lebih besar dibandingkan produk yang hanya terjual 5 unit per hari.

2. Penjualan Maksimum Harian

Penjualan maksimum harian adalah jumlah penjualan tertinggi yang pernah terjadi dalam satu hari. Data ini membantu bisnis melihat potensi lonjakan permintaan.

Jika rata-rata penjualan harian 30 unit tetapi penjualan maksimum pernah mencapai 60 unit, maka bisnis perlu mempertimbangkan adanya risiko kenaikan permintaan secara tiba-tiba.

3. Lead Time Rata-Rata

Lead time adalah waktu yang dibutuhkan sejak bisnis melakukan pemesanan hingga barang diterima. Jika lead time rata-rata adalah 7 hari, maka bisnis harus memiliki stok yang cukup untuk memenuhi permintaan selama 7 hari tersebut.

Semakin panjang lead time, semakin besar pula kebutuhan safety stock.

4. Lead Time Maksimum

Lead time maksimum adalah waktu terlama yang pernah dibutuhkan supplier untuk mengirim barang. Data ini penting untuk mengantisipasi keterlambatan.

Misalnya, supplier biasanya mengirim barang dalam 5 hari, tetapi pernah terlambat hingga 9 hari. Maka bisnis perlu memperhitungkan risiko tambahan 4 hari tersebut dalam safety stock.

5. Fluktuasi Permintaan

Produk dengan permintaan stabil biasanya lebih mudah dihitung safety stock-nya. Sebaliknya, produk yang permintaannya naik turun membutuhkan cadangan lebih besar.

Fluktuasi dapat dipengaruhi oleh musim, tren media sosial, hari besar, promosi, atau perubahan perilaku pelanggan.

6. Biaya Penyimpanan

Safety stock memang membantu mencegah kehabisan barang. Namun, semakin banyak stok yang disimpan, semakin besar pula biaya penyimpanan. Biaya ini bisa mencakup sewa gudang, tenaga kerja, risiko barang rusak, barang kedaluwarsa, dan modal yang tertahan.

Karena itu, safety stock harus dihitung secara seimbang, bukan hanya diperbanyak tanpa pertimbangan.

Rumus Safety Stock Dasar

Salah satu rumus safety stock yang paling mudah digunakan adalah rumus dasar berdasarkan penjualan harian dan lead time.

Rumusnya adalah:

Safety Stock = (Penjualan Harian Maksimum x Lead Time Maksimum) – (Penjualan Harian Rata-Rata x Lead Time Rata-Rata)

Rumus ini cocok digunakan oleh bisnis yang ingin menghitung stok cadangan dengan data sederhana. Komponen yang dibutuhkan adalah penjualan harian maksimum, lead time maksimum, penjualan harian rata-rata, dan lead time rata-rata.

Contoh Perhitungan Safety Stock Dasar

Misalnya, sebuah toko memiliki data sebagai berikut:

Penjualan harian maksimum: 80 unit
Lead time maksimum: 10 hari
Penjualan harian rata-rata: 50 unit
Lead time rata-rata: 7 hari

Maka perhitungannya:

Safety Stock = (80 x 10) – (50 x 7)
Safety Stock = 800 – 350
Safety Stock = 450 unit

Artinya, toko tersebut sebaiknya memiliki safety stock sebanyak 450 unit untuk mengantisipasi lonjakan permintaan dan keterlambatan pasokan.

Namun, hasil ini perlu dievaluasi kembali sesuai kondisi bisnis. Jika biaya penyimpanan terlalu tinggi atau produk memiliki masa simpan pendek, bisnis perlu menyesuaikan strategi stok agar tidak menimbulkan kerugian.

Rumus Mencari Safety Stock dengan Metode Cadangan Tetap

Selain rumus dasar, bisnis juga bisa menggunakan metode cadangan tetap. Metode ini lebih sederhana karena hanya menghitung stok cadangan berdasarkan jumlah hari tertentu.

Rumusnya adalah:

Safety Stock = Jumlah Hari Cadangan x Rata-Rata Penjualan Harian

Metode ini cocok untuk bisnis kecil atau produk dengan permintaan yang relatif stabil.

Contoh Perhitungan Cadangan Tetap

Sebuah toko ingin menyediakan stok cadangan untuk 14 hari. Rata-rata penjualan produk adalah 12 unit per hari.

Safety Stock = 14 x 12
Safety Stock = 168 unit

Artinya, toko perlu menyediakan 168 unit sebagai stok cadangan.

Kelebihan metode ini adalah mudah digunakan. Namun, kelemahannya adalah tidak memperhitungkan variasi lead time atau lonjakan permintaan secara detail. Oleh karena itu, metode ini lebih cocok untuk produk yang pergerakan stoknya stabil dan tidak terlalu bergantung pada supplier dengan waktu pengiriman yang berubah-ubah.

Rumus Safety Stock dengan Service Level

Untuk bisnis yang ingin menghitung safety stock secara lebih akurat, terutama jika memiliki data historis yang cukup, metode service level bisa digunakan.

Service level menunjukkan tingkat kemampuan bisnis dalam memenuhi permintaan pelanggan tanpa kehabisan stok. Semakin tinggi service level yang diinginkan, semakin besar safety stock yang perlu disiapkan.

Rumus sederhananya adalah:

Safety Stock = Z Score x Standar Deviasi Permintaan Selama Lead Time

Z score adalah angka yang mewakili tingkat layanan. Misalnya, service level 95% biasanya menggunakan Z score sekitar 1,65. Semakin tinggi service level, semakin besar nilai Z score.

Metode ini cocok untuk bisnis yang sudah memiliki data penjualan lebih rapi dan ingin membuat keputusan berbasis data.

Contoh Perhitungan dengan Service Level

Misalnya, sebuah bisnis ingin memiliki service level 95% dengan Z score 1,65. Standar deviasi permintaan selama lead time adalah 100 unit.

Safety Stock = 1,65 x 100
Safety Stock = 165 unit

Artinya, bisnis perlu menyiapkan safety stock sebanyak 165 unit untuk menjaga kemungkinan ketersediaan barang sesuai target service level.

Metode ini lebih analitis dibandingkan metode dasar, tetapi membutuhkan data yang lebih lengkap. Jika data penjualan belum rapi, bisnis dapat memulai dari rumus dasar terlebih dahulu.

Rumus Safety Stock dan Reorder Point

Setelah mengetahui safety stock, langkah berikutnya adalah menghitung reorder point. Rumus safety stock dan reorder point biasanya digunakan bersama agar bisnis tahu jumlah stok cadangan sekaligus waktu pemesanan ulang.

Rumus reorder point adalah:

Reorder Point = (Rata-Rata Penjualan Harian x Lead Time) + Safety Stock

Rumus ini menunjukkan jumlah stok minimum yang harus menjadi sinyal untuk melakukan pemesanan ulang.

Contoh Perhitungan Reorder Point

Misalnya, sebuah bisnis memiliki data berikut:

Rata-rata penjualan harian: 40 unit
Lead time: 6 hari
Safety stock: 150 unit

Maka perhitungannya:

Reorder Point = (40 x 6) + 150
Reorder Point = 240 + 150
Reorder Point = 390 unit

Artinya, ketika stok tersisa 390 unit, bisnis harus segera melakukan pemesanan ulang. Dengan begitu, selama menunggu barang baru datang, bisnis masih memiliki cukup stok untuk memenuhi permintaan pelanggan.

Contoh Lengkap Menghitung Safety Stock dan Reorder Point

Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh lengkapnya.

Sebuah bisnis menjual produk kebutuhan rumah tangga. Berdasarkan data historis, diketahui:

Rata-rata penjualan harian: 60 unit
Penjualan harian maksimum: 100 unit
Lead time rata-rata: 5 hari
Lead time maksimum: 8 hari

Langkah pertama adalah menghitung safety stock.

Safety Stock = (Penjualan Harian Maksimum x Lead Time Maksimum) – (Penjualan Harian Rata-Rata x Lead Time Rata-Rata)

Safety Stock = (100 x 8) – (60 x 5)
Safety Stock = 800 – 300
Safety Stock = 500 unit

Setelah itu, hitung reorder point.

Reorder Point = (Rata-Rata Penjualan Harian x Lead Time Rata-Rata) + Safety Stock

Reorder Point = (60 x 5) + 500
Reorder Point = 300 + 500
Reorder Point = 800 unit

Jadi, bisnis perlu memiliki safety stock sebanyak 500 unit. Ketika stok tersisa 800 unit, bisnis harus segera melakukan pemesanan ulang.

Dengan cara ini, bisnis tidak menunggu stok benar-benar menipis. Keputusan pembelian menjadi lebih terencana, sehingga risiko kehabisan stok dapat dikurangi.

Cara Menghitung Safety Stock Secara Praktis

Menggunakan rumus saja belum cukup. Bisnis juga perlu memastikan data yang digunakan benar dan relevan. Berikut langkah praktis yang bisa dilakukan.

1. Kumpulkan Data Penjualan

Langkah pertama adalah mengumpulkan data penjualan harian. Idealnya, gunakan data minimal 3 sampai 6 bulan agar hasil lebih akurat. Jika bisnis memiliki pola musiman, gunakan data dari periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Pisahkan data berdasarkan produk karena setiap produk memiliki pola permintaan yang berbeda.

2. Hitung Rata-Rata Penjualan Harian

Setelah data terkumpul, hitung rata-rata penjualan harian. Caranya adalah membagi total penjualan dalam periode tertentu dengan jumlah hari pada periode tersebut.

Misalnya, total penjualan dalam 30 hari adalah 1.500 unit. Maka rata-rata penjualan harian adalah 50 unit.

3. Cari Penjualan Harian Maksimum

Selanjutnya, cari penjualan tertinggi dalam satu hari pada periode yang sama. Angka ini akan membantu bisnis memperkirakan potensi lonjakan permintaan.

Jika penjualan tertinggi pernah mencapai 90 unit dalam sehari, maka angka tersebut dapat digunakan sebagai penjualan harian maksimum.

4. Hitung Lead Time Supplier

Catat berapa lama supplier biasanya mengirim barang. Jika beberapa pengiriman membutuhkan 5 hari, 6 hari, dan 7 hari, maka rata-ratanya bisa dihitung untuk mendapatkan lead time rata-rata.

Selain itu, catat juga lead time terlama. Data ini akan digunakan sebagai lead time maksimum.

5. Gunakan Rumus yang Sesuai

Jika bisnis masih baru atau data belum lengkap, gunakan rumus dasar atau metode cadangan tetap. Jika data sudah lebih matang, bisnis bisa menggunakan metode service level.

Yang terpenting, gunakan metode yang sesuai dengan kondisi bisnis. Jangan memaksakan rumus yang terlalu rumit jika data belum siap.

6. Evaluasi Secara Berkala

Safety stock bukan angka yang berlaku selamanya. Permintaan pasar bisa berubah, supplier bisa berubah, biaya penyimpanan bisa naik, dan pola pelanggan bisa bergeser.

Karena itu, evaluasi safety stock secara berkala. Untuk produk cepat laku, evaluasi bisa dilakukan setiap bulan. Untuk produk yang lebih stabil, evaluasi bisa dilakukan setiap tiga bulan.

Kesalahan Umum dalam Menghitung Safety Stock

Banyak bisnis sudah memahami pentingnya safety stock, tetapi masih melakukan kesalahan saat menghitungnya. Berikut beberapa kesalahan yang perlu dihindari.

1. Menggunakan Perkiraan Tanpa Data

Menentukan safety stock berdasarkan “kira-kira” memang cepat, tetapi risikonya tinggi. Jika perkiraan terlalu rendah, bisnis tetap berisiko kehabisan stok. Jika terlalu tinggi, modal kerja akan tertahan.

Gunakan data penjualan dan lead time agar hasil lebih objektif.

2. Tidak Memperhitungkan Lead Time Maksimum

Banyak bisnis hanya menggunakan lead time rata-rata. Padahal, keterlambatan supplier sering kali menjadi penyebab utama stok habis.

Lead time maksimum penting untuk melihat skenario terburuk yang mungkin terjadi. Dengan memasukkannya ke dalam perhitungan, bisnis bisa lebih siap menghadapi keterlambatan.

3. Menyamakan Semua Produk

Setiap produk memiliki karakter berbeda. Produk fast-moving membutuhkan perhitungan yang berbeda dari produk slow-moving. Produk musiman juga tidak bisa dihitung dengan pendekatan yang sama seperti produk kebutuhan harian.

Karena itu, sebaiknya kelompokkan produk berdasarkan kategori, tingkat penjualan, dan risiko kehabisan stok.

4. Mengabaikan Biaya Penyimpanan

Safety stock memang penting, tetapi menyimpan terlalu banyak barang juga bisa merugikan. Apalagi jika produk mudah rusak, kedaluwarsa, atau cepat berubah tren.

Bisnis perlu mencari titik seimbang antara ketersediaan barang dan efisiensi biaya.

5. Tidak Menghubungkan Safety Stock dengan Reorder Point

Safety stock akan lebih efektif jika digunakan bersama reorder point. Jika bisnis hanya tahu jumlah stok cadangan tetapi tidak tahu kapan harus memesan ulang, risiko kehabisan stok tetap bisa terjadi.

Oleh karena itu, rumus safety stock dan reorder point sebaiknya digunakan sebagai satu kesatuan dalam manajemen persediaan.

Tips Mengoptimalkan Safety Stock dalam Bisnis

Agar safety stock benar-benar membantu operasional, bisnis perlu menerapkannya secara strategis.

1. Prioritaskan Produk yang Paling Penting

Tidak semua produk membutuhkan safety stock besar. Fokuskan perhitungan lebih detail pada produk yang paling laku, memiliki margin tinggi, atau berpengaruh besar terhadap kepuasan pelanggan.

Produk yang jarang terjual tidak perlu disimpan terlalu banyak karena dapat membebani gudang.

2. Pantau Perubahan Permintaan

Permintaan pelanggan bisa berubah karena musim, tren, promosi, atau kondisi ekonomi. Jika bisnis akan mengadakan promo besar, safety stock perlu ditinjau ulang sebelum kampanye berjalan.

Jangan menggunakan angka safety stock lama untuk situasi permintaan yang berbeda.

3. Bangun Komunikasi Baik dengan Supplier

Supplier yang responsif dapat membantu bisnis menekan kebutuhan safety stock. Jika pemasok selalu tepat waktu dan dapat memenuhi pesanan mendadak, bisnis tidak perlu menyimpan cadangan terlalu besar.

Sebaliknya, jika supplier sering terlambat, safety stock perlu ditingkatkan atau bisnis perlu mencari pemasok alternatif.

4. Gunakan Sistem Pencatatan yang Rapi

Perhitungan safety stock sangat bergantung pada data. Jika pencatatan stok masih manual dan sering tidak akurat, hasil perhitungan juga bisa meleset.

Gunakan sistem pencatatan yang mampu merekam penjualan, stok masuk, stok keluar, dan lead time secara konsisten.

5. Hubungkan Persediaan dengan Arus Kas

Persediaan dan arus kas tidak bisa dipisahkan. Stok yang terlalu besar dapat mengurangi dana yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan lain, seperti pembayaran supplier, gaji, operasional, pemasaran, atau ekspansi.

Karena itu, keputusan menambah safety stock harus selalu mempertimbangkan kemampuan kas bisnis.

Kapan Bisnis Perlu Menambah Safety Stock?

Bisnis tidak perlu selalu menambah safety stock. Namun, ada beberapa kondisi yang bisa menjadi tanda bahwa stok cadangan perlu dinaikkan.

Pertama, ketika permintaan produk mulai meningkat secara konsisten. Jika penjualan harian rata-rata terus naik, safety stock lama mungkin tidak lagi cukup.

Kedua, ketika supplier mulai sering terlambat. Jika lead time menjadi lebih panjang, risiko kehabisan stok juga meningkat.

Ketiga, saat bisnis akan menghadapi musim ramai, seperti Ramadan, akhir tahun, liburan sekolah, atau periode promo besar. Pada masa seperti ini, permintaan bisa naik secara signifikan.

Keempat, ketika produk memiliki peran penting dalam penjualan utama. Jika satu produk menjadi sumber pendapatan terbesar, safety stock untuk produk tersebut perlu diperhatikan lebih serius.

Namun, penambahan safety stock harus tetap dihitung. Jangan hanya menambah stok karena panik melihat permintaan naik. Gunakan data agar keputusan tetap rasional.

Kapan Safety Stock Perlu Dikurangi?

Selain menambah, bisnis juga perlu tahu kapan safety stock harus dikurangi. Hal ini penting agar modal kerja tidak terkunci pada barang yang kurang produktif.

Safety stock dapat dikurangi jika permintaan mulai turun, lead time supplier semakin stabil, atau bisnis menemukan pemasok yang lebih cepat. Safety stock juga perlu dikurangi jika biaya penyimpanan terlalu tinggi atau produk mulai mendekati masa kadaluarsa.

Untuk produk musiman, safety stock sebaiknya diturunkan setelah musim ramai berakhir. Jika tidak, bisnis bisa memiliki stok berlebih yang sulit dijual.

Dengan evaluasi rutin, bisnis dapat menjaga stok tetap sehat dan menghindari pemborosan.

Kesimpulan

Memahami rumus safety stock sangat penting bagi bisnis yang ingin menjaga ketersediaan barang tanpa menimbun stok secara berlebihan. Safety stock membantu bisnis menghadapi lonjakan permintaan, keterlambatan supplier, dan perubahan kondisi pasar yang tidak selalu bisa diprediksi.

Rumus mencari safety stock yang paling umum digunakan adalah:

Safety Stock = (Penjualan Harian Maksimum x Lead Time Maksimum) – (Penjualan Harian Rata-Rata x Lead Time Rata-Rata)

Sementara itu, rumus reorder point adalah:

Reorder Point = (Rata-Rata Penjualan Harian x Lead Time) + Safety Stock

Dengan memahami rumus safety stock dan reorder point, bisnis dapat mengetahui berapa banyak stok cadangan yang perlu disiapkan dan kapan harus melakukan pemesanan ulang. Hasilnya, operasional menjadi lebih lancar, pelanggan lebih puas, dan risiko kehilangan penjualan dapat ditekan.

Namun, pengelolaan stok juga membutuhkan dukungan modal kerja yang sehat. Saat bisnis perlu menambah persediaan untuk menjaga ketersediaan barang, arus kas sering kali ikut tertekan, terutama jika pembayaran dari pelanggan masih menunggu jatuh tempo. 

Untuk membantu menjaga cashflow tetap lancar, OnlinePajak menghadirkan solusi Invoice Financing yang memungkinkan bisnis memperoleh pembiayaan berbasis invoice tanpa agunan, dengan limit hingga Rp2 miliar, proses pengajuan online, tenor hingga 90 hari, dan pencairan dana dalam 1 hari setelah limit disetujui. 

Dengan dukungan ini, bisnis dapat lebih siap memenuhi kebutuhan stok, membayar operasional, dan menjaga penjualan tetap berjalan tanpa harus menunggu invoice dibayarkan pelanggan.

Reading: Rumus Safety Stock dan Reorder Point: Cara Mencari dan Menghitungnya