Peraturan Menteri Keuangan – 6/PMK.02/2013

TIPE

Peraturan Menteri Keuangan

NOMOR PERATURAN

6/PMK.02/2013

TAGGAL PENERBITAN

2 January 2013

OBJEK

tata cara penyetoran penerimaan negara bukan pajak dari surplus bank indonesia bagian pemerintah
PERATURAN

Menimbang :

  1. bahwa dalam rangka menyempurnakan pengaturan mengenai penyetoran Penerimaan Negara BukanPajak agar lebih jelas, efisien, transparan, akuntabel, dan komprehensif, perlu mengatur kembali tatacara penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak dari Surplus Bank Indonesia Bagian Pemerintah yangsebelumnya diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 34/PMK.02/2010;
  2. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, perlu menetapkan PeraturanMenteri Keuangan tentang Tata Cara Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak Dari Surplus BankIndonesia Bagian Pemerintah;

Mengingat :

  1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (Lembaran NegaraRepublik Indonesia Tahun 1997 Nomor 43, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor3687);
  2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia (Lembaran Negara Republik IndonesiaTahun 1999 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3843) sebagaimanatelah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2009 (Lembaran Negara RepublikIndonesia Tahun 2009 Nomor 7);
  3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik IndonesiaTahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);
  4. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara RepublikIndonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);
  5. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1997 tentang Jenis dan Penyetoran Penerimaan Negara BukanPajak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 57, Tambahan Lembaran NegaraRepublik Indonesia Nomor 5075);
  6. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2009 tentang Tata Cara Penentuan Jumlah, Pembayaran, danPenyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Terutang (Lembaran Negara Republik IndonesiaTahun 2009 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4995);

MEMUTUSKAN :

Menetapkan :

PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG TATA CARA PENYETORAN PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK DARI SURPLUS BANK INDONESIA BAGIAN PEMERINTAH.

Pasal 1

Dalam Peraturan Menteri ini, yang dimaksud dengan :

  1. Bank Indonesia adalah Bank Sentral Republik Indonesia.
  2. Bank Indonesia adalah badan hukum berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang BankIndonesia sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2009.
  3. Surplus Bank Indonesia Bagian Pemerintah adalah Surplus Bank Indonesia setelah dikurangi pembagianuntuk Cadangan Tujuan 30%, dan Cadangan Umum sehingga Modal dan Cadangan Umum menjadi 10%dari seluruh kewajiban moneter.

Pasal 2

(1) Bank Indonesia membayar Surplus Bank Indonesia Bagian Pemerintah paling lambat pada saat jatuhtempo.
(2) Jatuh tempo pembayaran Surplus Bank Indonesia Bagian Pemerintah sebagaimana dimaksud padaayat (1), yaitu 7 (tujuh) hari kerja setelah Bank Indonesia menerima Surat Menteri Keuangan mengenaijumlah Surplus Bank Indonesia yang menjadi bagian Pemerintah, sesuai Kesepakatan Bersama antaraPemerintah dan Bank Indonesia.

Pasal 3

(1) Bank Indonesia menyetorkan seluruh Surplus Bank Indonesia Bagian Pemerintah ke Rekening Kas UmumNegara dalam rupiah nomor 502.000000980 di Bank Indonesia.
(2) Pembayaran yang dilakukan oleh Bank Indonesia sebagai pelunasan kewajiban sesuai tanggalpembayaran.

Pasal 4

(1) Dalam hal terjadi keterlambatan dan/atau kekurangan pembayaran Surplus Bank Indonesia BagianPemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, dikenakan sanksi administrasi berupa denda sebesar2% (dua persen) per bulan dari jumlah Surplus Bank Indonesia Bagian Pemerintah yang terlambatdan/atau kurang dibayar dan bagian dari bulan dihitung 1 (satu) bulan penuh.
(2) Bank Indonesia menyetorkan seluruh kekurangan pembayaran dan/atau denda keterlambatansebagaimana dimaksud pada ayat (1) ke Rekening Kas Umum Negara sebagaimana dimaksud dalamPasal 3.
(3) Sanksi administrasi berupa denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan untuk paling lama24 (dua puluh empat) bulan.

Pasal 5

Bank Indonesia menyampaikan bukti setor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 kepada Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal Anggaran paling lambat 7 (tujuh) hari kerja setelah tanggal penyetoran.

Pasal 6

(1) Direktur Jenderal Anggaran melakukan penagihan kepada Bank Indonesia atas keterlambatan dan/ataukekurangan pembayaran Surplus Bank Indonesia Bagian Pemerintah sebagaimana dimaksud dalamPasal 4, dengan menerbitkan Surat Tagihan Pertama.
(2) Apabila dalam jangka waktu 1 (satu) bulan terhitung sejak tanggal Surat Tagihan Pertama sebagaimanadimaksud pada ayat (1) diterima dan Bank Indonesia belum atau tidak melunasi kewajibannya, DirekturJenderal Anggaran menerbitkan Surat Tagihan Kedua.
(3) Apabila dalam jangka waktu 1 (satu) bulan terhitung sejak tanggal Surat Tagihan Kedua sebagaimanadimaksud pada ayat (2) diterima dan Bank Indonesia belum atau tidak melunasi kewajibannya, DirekturJenderal Anggaran menerbitkan Surat Tagihan Ketiga.
(4) Apabila dalam jangka waktu 1 (satu) bulan terhitung sejak tanggal Surat Tagihan Ketiga sebagaimanadimaksud pada ayat (3) diterima dan Bank Indonesia belum atau tidak melunasi kewajibannya, DirekturJenderal Anggaran menerbitkan Surat Penyerahan Tagihan kepada instansi yang berwenang mengurusPiutang Negara untuk diproses lebih lanjut penyelesaiannya.

Pasal 7

(1) Dalam hal terdapat kelebihan penyetoran atau pembayaran Surplus Bank Indonesia Bagian Pemerintahyang disebabkan kesalahan penghitungan atau kesalahan penyetoran, Bank Indonesia dapat mengajukanpermohonan pengembalian atas kelebihan pembayaran tersebut kepada Menteri Keuangan c.q. DirekturJenderal Anggaran.
(2) Direktur Jenderal Anggaran atas nama Menteri Keuangan memberikan persetujuan atau penolakan ataspermohonan Bank Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) secara tertulis.
(3) Dalam hal permohonan pengembalian kelebihan pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2)disetujui, kelebihan pembayaran tersebut diperhitungkan sebagai pembayaran dimuka atas jumlahSurplus Bank Indonesia Bagian Pemerintah yang terutang pada periode berikutnya.

Pasal 8

Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, ketentuan mengenai tata cara penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak dari Surplus Bank Indonesia sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 34/PMK.02/2010 tentang Tata Cara Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak Dari Dividen Dan Sisa Surplus Bank Indonesia, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 9

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 2 Januari 2013
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

AGUS D.W. MARTOWARDOJO

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 2 Januari 2013
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

AMIR SYAMSUDIN

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2013 NOMOR 9

Butuh Bantuan?

Temukan konsultan pajak yang tepat untuk bisnis Anda. Cek direktori konsultan pajak OnlinePajak. 

BACA JUGA

Peraturan Menteri Keuangan – 67/PMK.01/2008

Menimbang : bahwa dalam rangka pelaksanaan modernisasi sistem administrasi perpajakan secara bertahap sebagai upaya pelaksanaan “Good Governance” dan meningkatkan penerimaan pajak serta efektivitas organisasi instansi…

Surat Edaran Dirjen Pajak – SE 36/PJ.6/1993

Pelaksanaan penagihan PBB dengan Surat Paksa sebagaimana diatur dalam Surat Edaran Dirjen Pajak No. SE-12/PJ.6/1991 harus dilakukan dengan terlebih dahulu meminta persetujuan dari Kantor Pusat…

OnlinePajak menggunakan cookie untuk memberikan pengalaman terbaik saat menavigasi website. Kebijakan cookie selengkapnya di sini