Surat Edaran Dirjen Pajak – SE 16/PJ.5/1987

TIPE

Surat Edaran Dirjen Pajak

NOMOR PERATURAN

SE 16/PJ.5/1987

TAGGAL PENERBITAN

6 June 1987

OBJEK

kebijaksanaan pemeriksaan spt PPh lebih bayar 1986 (seri pemeriksaan 09)
PERATURAN

Sebagai tindak lanjut dari kebijaksanaan pemeriksaan Pajak Penghasilan 1986 yang telah disampaikan kepada Saudara melalui Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-15/PJ.5/1987 tanggal 6 Juni 1987 (SERI PEMERIKSAAN 08) dengan ini disampaikan kepada Saudara kebijaksanaan mengenai pemeriksaan SPT PPh 1986 Lebih Bayar sebagai berikut :

  1. SPPT PPh 1986 Lebih bayar harus diteliti sebagai tindak lanjut Tata Cara Penerimaan SPT PPh yang diatur dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak No. 12/PJ.BT.5/87 tanggal 7 Februari 1987.

  2. Sebelum melakukan Penelitian SPT Lebih Bayar, dilakukan sortasi SPT PPh Lebih Bayar kedalam golongan :
    1. Wajib Pajak Perseorangan.
    2. Wajib Pajak Badan (non penanaman modal).
    3. Wajib Pajak Badan (penanaman modal).
  3. Setiap golongan wajib dipisahkan dalam dua kelompok menurut besarnya permohonan kelebihan pembayaran pajak sebagai berikut :
  4. GolonganKelompok A
    Lebih Bayar (Rp)
    Kelompok B
    Lebih Bayar (Rp)
    1. Wajib Pajak Perseorangan
    2. Wajib Pajak Badan :
      – Non Penanaman Modal
      – Penanaman Modal
    0-1 juta

    0-5 juta
    0-25 juta

    diatas 1 juta

    diatas 5 juta
    diatas 25 juta

  1. Atas setiap golongan SPT PPh Lebih Bayar dilakukan Penelitian SPT dengan urutan pelaksanaan sebagai berikut :
    4.1. Penelitian atas kelengkapan pengisian SPT beserta lampirannya.
    4.2. Penelitian atas biaya yang tidak diperbolehkan dikurangkan.
    4.3. Penelitian atas kesalahan matematis, yaitu salah hitung dan salah tulis.
  1. Untuk SPT Lebih Bayar Kelompok A dapat segera diterbitkan SKKPP nya setelah Penelitian dan Perekaman SPT selesai dilakukan.
  1. Untuk SPT Lebih Bayar Kelompok B dapat segera diterbitkan Surat Perintah Pemeriksaannya setelah Penelitian dan Perekaman SPT selesai dilakukan, berpedoman pada Kelas Pemeriksaan yang telah ditetapkan (lihat Seri Pemeriksaan 08) sebagai berikut:

    Kelas PemeriksaanJenis S.P.T. *)
    Perseorangan :
    I
    II
    III
    IV
    V
    VI
    VII
    VIII
    IX
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Lp.
    P. Lp.
    1770 A
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Lp.
    P. Lp.
    1770 B
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Lp.
    P. Lp.
    1770 C
    Badan
    I
    II
    III
    IV
    V
    VI
    VII
    VIII
    IX
    1771 A
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Lp.
    P. Lp.
    1771 B
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Lp.
    P. Lp.
    1771 C
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Kt.
    P. Lp.
    P. Lp.

    * Catatan :

    1. P.Kt. = Pemeriksaan Kantor, dilakukan oleh Seksi Penetapan.
      P.Lp.= Pemeriksaan Lapangan dilakukan oleh Seksi AKPB pada IP tipe A dan B1 serta subseksi PB pada seksi AKPB/DL pada IP tipe B2.
    2. Untuk setiap jenis pemeriksaan, baik Pemeriksaan Kantor maupun Pemeriksaan Lapangan petugas Pemeriksa harus dilengkapi dengan Surat Perintah Pemeriksaan.

    3. Kekurangan tenaga Pemeriksa dapat ditunjuk dari unit kerja lainnya sepanjang yang bersangkutan mempunyai keahlian melakukan pemeriksaan dan mempunyai tanda pengenal pemeriksa.

  2. Pemeriksaan terhadap SPT Lebih Bayar kelompok B dilakukan segera setelah Penelitian dan Perekaman SPT selesai dilakukan tanpa menunggu diterbitkannya LP2 oleh Kantor PDIP, mengingat terbatasnya waktu seperti ditentukan dalam pasal 17 UU No. 6/1983.

  3. Kantor PDIP secara bertahap akan menerbitkan formulir DKHP dimaksud diatas apabila proses perekaman data kedalam komputer dan proses pemberian skor oleh komputer telah selesai dilakukan.

  4. Khusus untuk SPT Lebih Bayar Kelompok B, apabila wajib pajak juga merupakan peserta sayembara Laporan Tahunan, pemeriksaannya harus mendapat prioritas utama dan diselesaikan dalam jangka waktu tiga bulan setelah SPT disampaikan atau tiga bulan setelah tanggal pendaftaran turut serta dalam sayembara Laporan Tahunan, tergantung saat yang lebih akhir.

  5. Kebijaksanaan ini mulai berlaku sejak tanggal 1 Juli 1987.

Demikianlah Kebijaksanaan Pemeriksaan SPT PPh Lebih Bayar 1986 kami berikan untuk diketahui dan dilaksanakan sebaik-baiknya dan agar ditembuskan kepada petugas pelaksana dilingkungan masing-masing.

DIREKTUR JENDERAL PAJAK

ttd

Drs. SALAMUN A.T.

Butuh Bantuan?

Temukan konsultan pajak yang tepat untuk bisnis Anda. Cek direktori konsultan pajak OnlinePajak. 

BACA JUGA

Surat Edaran Dirjen Pajak – SE 08/PJ.7/2004

Sehubungan dengan pelaksanaan pemeriksaan pajak dan analisis hasil pemeriksaan selama tahun 2004, dengan ini disampaikan Rencana Pemeriksaan Nasional tahun 2005 yang terdiri dari Industri Terpilih,…

Peraturan Daerah – 181 TAHUN 2016

Menimbang : bahwa berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 210 Tahun 2015, telah diatur mengenai penghitungan dasar pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor…