Resources / Blog / seputar invoice

Peran Account Receivable dalam Manajemen Keuangan Bisnis

Account Receivable, atau piutang dagang, adalah aspek penting dalam keuangan bisnis. Artikel ini bertujuan memberikan pemahaman sederhana tentang Account Receivable, menjelaskan definisi, peran, serta dampaknya dalam manajemen keuangan perusahaan.

Account Receivable: Pengertian dan Peran dalam Manajemen Keuangan Bisnis

Definisi Account Receivable

Account Receivable (AR) mengacu pada jumlah uang yang harus diterima oleh perusahaan dari pelanggan atau pihak lain atas penjualan barang atau pemberian jasa. Dalam istilah yang lebih sederhana, ini adalah piutang dagang yang terjadi ketika perusahaan menjual produk atau layanan dengan memberikan kredit kepada pelanggan.

Pemahaman yang baik tentang peran dan langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengelolanya dapat membantu perusahaan mengoptimalkan sumber daya, meningkatkan likuiditas, dan menciptakan lingkungan keuangan yang sehat. Dengan fokus pada kebijakan kredit yang bijaksana dan pemantauan yang cermat, perusahaan dapat mengurangi risiko dan memastikan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Yearly saving potential
Rp 0
Masukkan jumlah Invoice Anda di bawah ini untuk mengetahui tingkat pengembalian investasi (ROI)
e-Faktur/Invoice
e-Signature
e-BuPot
e-Meterai
Jumlah Bupot / SSP / Credit Note yang tidak tertagih (Rp)
Jumlah hari yang dibutuhkan untuk memproses invoice
Rata-rata Nilai Invoice (Rp)
Biaya Tax Audit per Tahun (Rp)
Yearly saving potential
Isi detail Anda untuk mulai Berhemat!

    Numbers estimated based on existing industry. Read more: Otomatisasi Penagihan Kepatuhan       

    Peran Account Receivable dalam Bisnis

    Dalam bisnis peran AR menjadi poros yang penting. Berikut ini peran-peran yang diemban oleh AR: 

    1. Sumber Dana Operasional

    Account Receivable dapat dianggap sebagai sumber dana operasional. Saat perusahaan memberikan kredit kepada pelanggan, mereka dapat terus menggerakkan bisnisnya tanpa harus menunggu pembayaran langsung.

    2. Pengukur Kesehatan Keuangan

    Jumlah piutang dagang mencerminkan seberapa baik perusahaan menjual produk atau layanan dan seberapa efektif manajemen kredit perusahaan, sehingga AR dapat menjadi pengukur kesehatan keuangan perusahaan.

    3. Pengaruh Arus Kas

    Account Receivable berpengaruh langsung pada arus kas perusahaan. Jika piutang dagang dapat diumpamakan sebagai “tagihan tertunda,” manajemen yang baik dapat membantu menjaga arus kas yang sehat.

    4. Keterlibatan Risiko Kredit

    Menentukan kebijakan kredit yang baik merupakan bagian penting dari manajemen Account Receivable. Perusahaan perlu mempertimbangkan risiko kredit untuk meminimalkan kemungkinan keterlambatan pembayaran atau bahkan ketidakmampuan pelanggan membayar.

    5. Peluang Pertumbuhan

    Dalam beberapa kasus, memberikan kredit dapat membuka peluang pertumbuhan. Pelanggan yang setia dan memiliki riwayat pembayaran baik mungkin lebih cenderung untuk meningkatkan bisnis mereka dengan perusahaan.

    Langkah-langkah Menangani Account Receivable

    Berikut ini langkah-langkah dalam menangani AR: 

    1. Penetapan Kebijakan Kredit > Tetapkan kebijakan kredit yang jelas, termasuk syarat pembayaran, batas kredit, dan evaluasi risiko kredit secara berkala.
    2. Pemantauan Aktif > Pantau piutang dagang secara aktif. Pemantauan teratur dapat membantu mengidentifikasi potensi masalah sebelum menjadi serius.
    3. Faktur yang Jelas dan Akurat > Faktur yang jelas dan akurat membantu mencegah kesalahan pembayaran dan meningkatkan kemungkinan pembayaran tepat waktu.
    4. Insentif Pembayaran Cepat > Berikan insentif kepada pelanggan yang membayar tepat waktu, seperti diskon atau penawaran khusus.
    5. Penanganan Tepat Waktu > Jika ada tunggakan pembayaran, lakukan penanganan yang cepat. Komunikasi terbuka dengan pelanggan dapat membantu mengatasi masalah secara efektif.

    Baca Juga: Principal dalam Dunia Distribusi: Definisi, Struktur, dan Peran

    Dampak Negatif Account Receivable yang Tidak Terkelola

    Meski banyak manfaat dan kegunaannya, terdapat pula dampak negatif yang mungkin hadir dalam pengelolaan AR ini. Berikut ini dampak negatif yang mungkin dihadapi apabila tidak terkelola dengan baik: 

    1. Ketidakpastian Keuangan

    Ketidakpastian keuangan ini merujuk pada, apabila piutang dagang tidak terkelola dengan baik, sehingga perusahaan tidak dapat memperkirakan dengan tepat kapan pembayaran akan diterima.

    2. Masalah Arus Kas

    Jika piutang dagang tidak dikelola dengan baik, maka perusahaan dapat menghadapi masalah arus kas yang signifikan karena pembayaran tertunda atau tidak dapat diprediksi.

    3. Penurunan Likuiditas

    Likuiditas perusahaan dapat terpengaruh jika terlalu banyak sumber daya diikat dalam piutang dagang, terutama jika pembayaran tidak segera diterima.

    4. Kerugian Finansial

    Tunggakan pembayaran dapat menyebabkan kerugian finansial, terutama jika pelanggan mengalami kebangkrutan atau ketidakmampuan membayar.

    Account receivable setidaknya memiliki kemampuan dasar keuangan, komunikasi, analitis, manajemen waktu, dan negosiasi. Selain itu, kemampuan dalam menggali teknologi dan informasi seputar pengelolaan keuangan perusahaan menjadi hal yang penting saat ini dengan penggunaan aplikasi yang dapat menunjang kinerja AR, seperti OnlinePajak. 

    Baca Juga: Contoh Analisis SWOT untuk Bisnis yang Sukses

    OnlinePajak adalah aplikasi yang memungkinkan berbagai departemen untuk melakukan rekonsiliasi secara standar dengan fitur yang memudahkan Anda dalam mengelola sistem operasional keuangan perusahaan Anda. OnlinePajak kini hadir dengan fitur pembayaran invoice yang dapat membantu perusahaan di Indonesia. Dalam fitur ini, Anda dapat melakukan pembayaran ke supplier atau permintaan pembayaran.

    Reading: Peran Account Receivable dalam Manajemen Keuangan Bisnis