Resources / Blog / PPN e-Faktur

Retur Penjualan dan Retur Pembelian dalam Transaksi Jual Beli

Retur atau pengembalian barang adalah hal yang biasa terjadi dalam transaksi jual beli. Retur pembelian terjadi ketika pihak pembeli mengembalikan barang karena rusak atau tidak sesuai spesifikasi, sedangkan retur penjualan terjadi ketika pihak pembeli mengembalikan barang yang tidak sesuai atau rusak. Kedua jenis retur ini mempengaruhi pencatatan laporan keuangan dan ada sanksi hukum jika ada kesengajaan pengiriman barang yang rusak atau salah.

Sekilas Mengenai Retur

Retur atau yang biasa dikenal juga dengan istilah pengembalian, merupakan hal yang biasa terjadi dalam dunia jual beli barang. Retur penjualan dan retur pembelian merupakan dua hal yang sering ditemukan dalam transaksi keuangan. Tentu saja, kemungkinan pengembalian bisa terjadi karena kegiatan penjualan maupun pembelian tidak selamanya berjalan dengan lancar. Dalam kondisi tertentu biasanya ada saja barang yang rusak atau tidak sesuai dengan pemesanan.

Saat melakukan pengembalian barang ada dokumen yang harus disertakan, baik oleh pihak penjual maupun pihak pembeli yang disebut dengan nota retur.

Nah, setelah membaca sekilas mengenai retur penjualan dan retur pembelian, mari kita simak secara lebih rinci apa saja perbedaan kedua jenis retur ini.

Retur Pembelian 

Retur pembelian merupakan pengembalian barang dari pihak pembeli kepada pihak penjual karena barang yang telah dikirim tidak sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan ataupun barang yang dikirim rusak. Dengan adanya retur pembelian, utang pihak pembeli kepada pihak penjual akan menjadi berkurang. 

Akun retur pembelian dicatat pada bagian kredit dalam jurnal keuangan, sedangkan utang dagang dicatat pada bagian debit. Dengan kata lain, retur pembelian akan mempengaruhi pencatatan laporan arus kas. 

Retur pembelian yang dilakukan pihak pembeli dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:

1. Retur Pembelian Secara Kredit

Pengembalian barang  dagang yang diperjualbelikan antara penjual dan pembeli secara kredit dengan angsuran dan akan dianggap lunas sesuai waktu jatuh tempo yang sudah disepakati antara pihak pembeli dan penjual.

2. Retur Pembelian Secara Tunai 

Pengembalian barang dagang yang telah dibeli oleh pihak pembeli secara tunai kepada pihak penjual dan dicatat di arus kas dengan catatan bahwa barang bisa diretur atau dikembalikan jika rusak.

Retur Penjualan 

Retur penjualan adalah penerimaan barang oleh pihak penjual yang dikembalikan dari pihak pembeli. Pengembalian ini biasanya terjadi jika barang yang dikirim pihak penjual tidak sesuai dengan apa yang diinginkan pembeli atau mengalami kerusakan. 

Retur penjualan menyebabkan piutang atau tagihan dari pihak penjual kepada pihak pembeli berkurang. Saat mencatat retur penjualan pada jurnal keuangan, isi kolom debit dengan akun retur penjualan sedangkan piutang dagang dicatatkan pada sisi kredit.

Dalam sebuah transaksi jual beli, biasanya pihak perusahaan membagi retur penjualan dalam 3 jenis menjadi: 

  1. Retur penjualan yang mengembalikan kas pihak pembeli.
  2. Retur penjualan yang mengurangi piutang pihak pembeli.
  3. Retur penjualan untuk mengganti barang yang rusak dari pihak pembeli dengan barang baru. 

Untuk mengurangi angka pengembalian barang, maka perusahaan (pihak penjual) harus lebih memperhatikan jenis dan spesifikasi barang yang akan dikirimkan.

Perbedaan Retur Penjualan dan Retur Pembelian

Retur penjualan dan retur pembelian adalah dua hal yang sangat berbeda di dunia bisnis, meskipun keduanya terkait dengan pengembalian produk. Retur penjualan terjadi ketika konsumen mengembalikan produk yang telah dibeli dari toko atau pengecer. Sementara itu, retur pembelian terjadi ketika pihak yang membeli produk mengembalikan produk tersebut ke pemasok.

Berikut adalah beberapa perbedaan antara retur penjualan dan retur pembelian yang perlu dipahami oleh bisnis:

1. Orang yang Melakukan Retur

Pertama-tama, perbedaan mendasar antara retur penjualan dan retur pembelian adalah siapa yang melakukan pengembalian. Retur penjualan dilakukan oleh konsumen akhir, sedangkan retur pembelian dilakukan oleh pihak yang membeli produk dari pemasok.

2. Alasan Pengembalian

Kedua, alasan pengembalian juga berbeda. Retur penjualan sering terjadi karena produk tidak sesuai dengan harapan atau rusak saat diterima. Di sisi lain, retur pembelian terjadi karena pihak yang membeli produk menemukan masalah dengan produk tersebut seperti cacat atau tidak sesuai dengan spesifikasi yang disepakati.

3. Pengaruh Terhadap Bisnis

Retur penjualan dapat berdampak pada reputasi toko atau pengecer. Jika terlalu banyak produk yang dikembalikan, konsumen mungkin kehilangan kepercayaan pada bisnis dan mencari alternatif lain. Di sisi lain, retur pembelian dapat berdampak pada hubungan bisnis antara pemasok dan pembeli. Jika terlalu banyak produk yang dikembalikan, pemasok mungkin tidak ingin bekerja sama lagi dengan pembeli.

Yearly saving potential
Rp 0
Masukkan jumlah Invoice Anda di bawah ini untuk mengetahui tingkat pengembalian investasi (ROI)
e-Faktur/Invoice
e-Signature
e-BuPot
e-Meterai
Jumlah Bupot / SSP / Credit Note yang tidak tertagih (Rp)
Jumlah hari yang dibutuhkan untuk memproses invoice
Rata-rata Nilai Invoice (Rp)
Biaya Tax Audit per Tahun (Rp)
Yearly saving potential
Isi detail Anda untuk mulai Berhemat!

    Numbers estimated based on existing industry. Read more: Otomatisasi Penagihan Kepatuhan¬†      

    4. Prosedur Pengembalian

    Prosedur pengembalian juga berbeda antara retur penjualan dan retur pembelian. Retur penjualan biasanya melibatkan proses yang lebih sederhana, di mana konsumen dapat mengembalikan produk ke toko atau pengecer dan mendapatkan pengembalian uang atau pertukaran produk.

    Di sisi lain, retur pembelian melibatkan proses yang lebih kompleks karena melibatkan pihak yang membeli produk dan pemasok.

    Dalam kedua kasus, penting bagi bisnis untuk memiliki prosedur pengembalian yang jelas dan mudah dipahami oleh konsumen atau pihak yang membeli produk. Hal ini dapat membantu mengurangi potensi kerugian dan meningkatkan kepercayaan konsumen atau pihak yang membeli produk.

    Kesimpulannya, retur penjualan dan retur pembelian memiliki perbedaan yang signifikan dalam hal siapa yang melakukan pengembalian, alasan pengembalian, pengaruh terhadap bisnis, dan prosedur pengembalian.

    Oleh karena itu, penting bagi bisnis untuk memahami perbedaan ini dan memiliki prosedur pengembalian yang jelas untuk mengelola risiko dan meningkatkan kepercayaan konsumen atau pihak yang membeli produk.

    Dalam transaksi jual beli, retur penjualan dan retur pembelian merupakan hal yang biasa terjadi. Berdasarkan UU No.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, jika ternyata sejak awal ada kesengajaan pengiriman dari penjual untuk mengirimkan barang yang rusak atau barang yang salah maka penjual dapat terkena sanksi hukum.

    Baca Selanjutnya: Langkah-Langkah Input Nota Retur Faktur Pajak di OnlinePajak

    Hubungi tim sales untuk mendapatkan demo gratis dan pelajari lebih lanjut bagaimana OnlinePajak dapat membantu Anda dalam mengelola Nota Retur, serta mengumpulkan dokumen Nota Retur Faktur Pajak secara otomatis.

    Reading: Retur Penjualan dan Retur Pembelian dalam Transaksi Jual Beli